Jember,- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember meresmikan posko relawan siaga bencana, Jumat (23/1/2026) malam.
Posko tersebut disiapkan untuk mendukung koordinasi dan mobilitas relawan dalam penanganan bencana di wilayah Jember.
Kepala Pelaksana BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan, bahwa fasilitas tersebut difungsikan sebagai rumah singgah relawan.
Sementara posko utama penanggulangan bencana, tetap berada di bawah kendali Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) yang sudah berjalan secara sistematis.
“Ini sebenarnya lebih kepada rumah singgah. Posko utama sudah dikendalikan oleh Pusdalops. Bangunan ini kami ratakan dan ditata ulang dalam waktu sekitar satu minggu hingga bisa dimanfaatkan seperti sekarang,” ujar Edy.
Menurutnya, rumah singgah ini diharapkan menjadi tempat berkumpul relawan dari berbagai wilayah, baik dari arah timur, barat, maupun selatan Kabupaten Jember.
Posko tersebut dapat digunakan untuk pelaporan, konsolidasi, hingga pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana relawan.
“Posko ini dibuka selama 24 jam. Relawan bisa sewaktu-waktu berkomunikasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), sehingga penanganan bencana bisa dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi,” beber dia.
Edy menambahkan, keberadaan posko relawan ini diharapkan dapat mendukung upaya penanganan bencana secara lebih efektif serta meningkatkan peluang penyelamatan jika terjadi kondisi darurat.
Dalam kesempatan tersebut, Edy juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul curah hujan yang masih tinggi hingga 31 Januari, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ia meminta masyarakat untuk menghindari daerah aliran sungai karena berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Selain itu, warga yang memiliki aktivitas di laut atau hobi memancing diminta tidak memaksakan diri saat kondisi cuaca berisiko.
“Jika sudah ada peringatan potensi bahaya, sebaiknya menghindar terlebih dahulu dan menunggu situasi aman. Bagi yang tidak bisa berenang, jangan mendekati air karena sangat berbahaya,” pungkas Edi. (*)












