Menu

Mode Gelap
Tiga Truk Kayu Lolos dari Hutan, Ilegal Logging Diduga Sudah Berulang Kebakaran Landa Pasar Baru Pandaan, Puluhan Lapak Terbakar Perbaikan Tuntas, Jalur Krucil – Tambelang Probolinggo Kini Mulus Tiga Nama Muncul sebagai Calon PJ Sekda Kota Probolinggo, Siapa Saja? BP Haji Bertransformasi jadi Kementerian, Kemenag Jember Sebut Minim Informasi Truk Muat 10 Ton Beras Tergelincir ke Sungai Bondoyudo Lumajang

Wisata · 29 Jul 2020 13:43 WIB

Suhu di Bromo Minus 3 Derajat Celcius, Turun ‘Embun Upas’


					Suhu di Bromo Minus 3 Derajat Celcius, Turun ‘Embun Upas’ Perbesar

SUKAPURA-PANTURA7.com, Puncak musim kemarau membuat cuaca di pegunungan semakin ekstrem. Bahkan di Gunung Bromo di malam hari suhu udara super dingin dan semakin dingin hingga -3 derajat Celcius saat dini hari.

Suhu di bawah 0 derajat mengakibat embun di kawasan Laut Pasir (Kaldera) Bromo membeku terhampar di pasir. Embun yang oleh warga Tengger disebut “embun upas” itu terlihat mirip butiran-butiran kristal putih menyelimuti dedaunan.

Tahun 2019 lalu sebelum adanya pandemi Covid-19, keindahan embun upas ini banyak diburu oleh para wisatawan karena momen ini jarang ditemukan. Mirip hamparan salju di negara-negara Eropa. Sehingga banyak wisatawan yang ingin mengabadikan momen tersebut.

Sayangnya embun upas saat ini tidak bisa dinikmati oleh wisatawan pada puncak musim kemarau tahun 2020 ini. Lantaran pandemi Covid-19 belum juga reda sehingga Gunung Bromo masih ditutup untuk wisatawan.

Supoyo, sesepuh Tengger di Kabupaten Probolinggo mengatakan, memang embun upas sesuatu hal yang sudah biasa bagi warga Tengger ketika musim kemarau. Biasanya embun upas turun mulai Juli hingga September.

“Jadi kalau dini hari di lautan pasir itu seperti hamparan salju, dan menghilangnya ketika matahari sudah terbit sekira jam 8-9 pagi,” kata Supoyo saat dihubungi via telepon, Rabu (29/7/2020).

Bagi warga Tengger suhu hingga minus 3 derajat ini sudah menjadi suatu hal yang biasa dan tidak mengganggu mereka untuk beraktifitas. “Orang sini sudah dari bayi merasakan cuaca begini, jadi sudah biasa,” imbuh anggota DPRD Kabupaten Probolinggo itu.

“Tetapi untuk tahun ini embun upas hanya dinikmati warga Tengger saja karena Bromo masih ditutup untuk wisatawan,” kata Supoyo.

Disinggung kapan Bromo dibuka kembali untuk wisatawan, Supoyo meminta, agar semua pihak bersabar. “Untuk informasi dibukanya kapan, masih belum pasti karena menunggu SOP dari TNBTS dan keputusan dari empat daerah,” katanya.

Seperti diketahui, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bisa dijangkau melalui empat pintu gerbang yakni, Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang.

“Sehingga pembukaan kembali Bromo untuk wisatawan dikoordinasikan dengan empat kabupaten tersebut. Rekomendasi empat bupati kemudian diajukan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mendapatkan persetujuan,” kata Supoyo. (*)


Editor: Ikhsan Mahmudi

Publisher: Rizal Wahyudi


Artikel ini telah dibaca 77 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Ada Fenomena Embun Upas di Bromo, TNBTS Waspadai Potensi Kebakaran Hutan

29 Juli 2025 - 08:43 WIB

Seperti Tidur di Atas Salju, Cerita Pendaki yang Menyaksikan Ranu Kumbolo Membeku

27 Juli 2025 - 14:38 WIB

Fenomena Embun Upas di Gunung Bromo, Sajikan Eksotika bak Pegunungan Alpen

11 Juli 2025 - 08:49 WIB

Keamanan Pendaki Ditingkatkan, TNBTS Wajibkan Gelang RFID bagi Pendaki Gunung Semeru

6 Juli 2025 - 09:33 WIB

Wamen: Dulu Instagram Saya Penuh Laporan Pungli Tumpak Sewu, Sekarang Sudah Beres

29 Juni 2025 - 20:51 WIB

DPRD Desak Dinas Pariwisata Lumajang Segera Intervensi dan Perbaiki Manajemen Air Terjun Tumpak Sewu

22 Juni 2025 - 09:20 WIB

Tumpak Sewu: Satu Objek Wisata, Dua Tarif Masuk Berbeda

19 Juni 2025 - 13:30 WIB

Pengelolaan Pemandian Selokambang Lumajang Diduga Bocor

19 Juni 2025 - 12:16 WIB

Pariwisata Tumpak Sewu Terancam Stagnan, Homestay dan Atraksi Pendamping Tak Terkoordinasi

18 Juni 2025 - 17:21 WIB

Trending di Pemerintahan