PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Maraknya radikalisme di lingkungan pendidikan khususnya Perguruan Tinggi (PT) menjadi skala prioritas yang akan diperhatikan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pemerintah Provinsi Jawa Timur im.

Atas hal itu, Balitbang Jatim pun menggelar Forum Grup Discussion (FGD) yang digelar di Kantor Telecenter Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis (12/9). Tujuannya, untuk antisipasi aksi intoleransi yang didasari sifat radikalisme.

Kasubdit Bidang Balitbang Pemprov Jatim Endah Rimbawati menegaskan, sejumlah elemen sengaja diundang dalam FGD agar formulasi naskah akademik pencegahan radikalisme dapat dilahirkan. Apalagi wilayah Probolinggo selama 4 tahun terakhir akrab dengan kasus terorisme.

“Ini kita kan Pemprov Jatim melakukan penelitian tentang radikalisme ditubuh Perguruan Tinggi. Oleh karena itu kita meminta rekomendasi dari sejumlah elemen,” ujarnya saat membuka FGD.

Rekomendasi FGD, menurut Endah, nantinya akan menjadi acuan civitas akademika dalam antisipasi deradikalisasi mahasiswa. “Selama ini deradikalisasi cenderung represif atau setelah ada kejadian bukan preventif sebelum kejadian,” tutur Endah.

Sementara itu, Peneliti Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Ahmad Zainul Hamdi menyebut potensi perkembangan radikalisme di Jawa Timur cukup besar. Sebab kata dia, sedikitnya ada 3 kampus besar yang terpapar radikalisme.

“Kita dapat data dari rilis BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, red) bahwa ada 10 kampus nasional yang terpapar radikalisme. Di Jatim itu ada 3, Ini yang harus kita waspadai,” ujar Zainul.

Ia menyebut, kendati belum melakukan aksi radikalisme secara fisik, namun mahasiswa di 3 kampus tersebut cenderung mendukung aksi-aksi radikalisme. Oleh karena itu, imbuh Zainul, sangat diperlukan upaya deradikalisasi.

“Yang berbahaya ketika mahasiswa ini lulus biasanya menjadi agen lokal di daerah untuk menyebar virus radikalisme,” ucap akademisi yang juga Wakil Ketua Ikatan Sarjana NahdlatuL Ulama (ISNU) Jatim ini.

Namun sayang, lanjutnya, kurangnya data secara kualitatif dan kuantitatif sejauh mana potensi mahasiswa terpapar radikalisme di kota/kabupaten di Jawa Timur membuat pemetaan langkah antisipatif relatif sulit.

“Melalui Balitbang ini, harapannya mampu menyaring potensi gerakan radikalisme di daerah-daerah. Tidak di Probolinggo saja namun juga daerah lain di Jatim,” harap dia. (*)

 

Penulis : Rahmad Soleh

Editor : Efendi Muhammad

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here