PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Tidak semua tawaran paket umrah murah membuat nyaman para jemaah. Seperti yang dialami 32 jemaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo yang telantar di Madinah bahkan sampai sempat tidur di luar hotel.

Hal itu, disampaikan salah satu kerabat jemaah umraoh, Badrus Sholeh (28) kepada PANTURA7.com,  Senin (13/5/2019). Ia mengeluhkan, orangtua dan adiknya yang merasa ditelantarkan.

Badrus mengatakan, awalnya jemaah berangkat bersamal 2 Mei 2019 lalu. Namun, ternyata dibagi dua kloter. Kloter pertama 14 orang berangkat tanggal 2 Mei dan kloter dua ada 18 orang berangkat tanggal 6 Mei, alasannya karena kehabisan tiket.

Sebanyak 32 jemaah umrah sendiri diakui pihak keluarga berangkat melalui biro travel umrah yakni, PT Shabilla Ebaldo Utama. Diketahui biro travel ini berkantor di Sidoarjo, namun para jamaah tak tahu lewat siapa mereka berangkat. Hanya saja mereka membayar DP Rp 6,5 juta sedangkan total biaya umrah Rp 22,5 juta selama 9 hari.

“Adik saya ini kan berangkat duluan ikut kloter pertama dan orangtua saya kloter ke dua. Seharusnya, kloter pertama pulang Kamis (9/5) dan orangtua saya besok (12/5). Tapi, ternyata adik saya tidak bisa pulang. Bapak-ibu saya juga gak bisa pulang bahkan mereka sempat tidur di luar hotel,” ucap Badrus.

Beruntung, kata Badrus, ada travel dari Medan yang membantu mereka untuk bisa tidur di losmen.

Badrus sempat menghubungi adik dan orangtuanya di Madinah. Dari pengakuan keluarganya, ternyata pendamping dari pihak biro travel sudah menghilang. Terus, selama ini para jamaah umrah membayar sendiri penginapannya.

Setelah PANTURA7.com menelusuri, rupanya 32 jamaah umrah diberangkatkan lewat perantara bernama Soleha (52) yang berdomisili di Sidoarjo. Soleha yang terbiasa memberangkatkan jemaah umrah ini dimintai tolong oleh Mursida, Uminah, dan Maryam. Namun ia menegaskan, bahkan keberangkatan itu bukan lewat PT Shabilla Ebaldo Utama namun Majelis Dakwah Mekkah Madinah (Madamm)

“Saya itu biasa memberangkatkan jamaah umrah. Jadi 32 itu 28 bayar DP 6,5 juta 4 lainnya cash. Namun jamaah dengan DP segitu memaksa untuk segera berangkat padahal mana ada DP segitu bisa berangkat. Sehingga saya menggunakan uang pribadi memberangkatkan mereka,” ucap Soleha.

Bahkan lanjut Soleha, ia meminta para jemaah untuk mencicil sisa DP tanpa bunga. Namun ia menyesalkan para jamaah yang terburu-buru menganggap ditelantarkan. Padahal ia masih melakukan proses pencairan dengan menjual asetnya dan butuh biaya hampir Rp 500 juta agar para jemaah bisa pulang .

“Rencananya besok pulang, makanya saya jual aset saya. Tapi mereka terburu-buru tidak sabar seolah ditelantarkan,” tandasnya. Disinggung jika ia dilaporkan ke polisi, ia mengaku tidak masalah dan siap karena yakin dia tidak melakukan penelantaran. (*)

 

 

Penulis: Rahmad Soleh

Editor: Ikhsan Mahmudi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here