Probolinggo,- Nahas menimpa Nur Hasan (45), nelayan asal Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Hasan mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waluyo Jati Kraksaan pada Minggu (4/10/2026) dini hari, setelah sempat mengalami kejang-kejang usai menerima suntikan obat dari tempat praktik dokter umum.
Peristiwa ini bermula pada Jumat (2/10/26) pagi. Hasan bersama istrinya, Siti Aisyah, mendatangi tempat praktik mandiri dr. R-H di Kecamatan Kraksaan, untuk mengobati keluhan sakit perut akibat riwayat penyakit lambung yang diidapnya.
Siti menceritakan bahwa sebelum berangkat berobat, suaminya hanya mengonsumsi sedikit makanan dan minuman. Hasan sempat menolak saat diminta makan nasi karena perutnya terasa tidak nyaman.
“Tadi pagi dia cuma minum air putih sama makan sedikit kue sawut. Disuruh makan nasi tidak mau, karena katanya perutnya tidak enak,” ungkap Siti.
Dalam proses pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Hasan mengalami pembengkakan organ liver. Dokter kemudian memberikan tindakan suntikan pada kedua lengan Hasan.
Namun, Siti mengklaim bahwa sebelum tindakan suntikan diberikan, dokter tidak menanyakan perihal asupan makanan atau minuman terakhir yang dikonsumsi oleh suaminya.
“Tidak, tidak ditanya apa-apa. Ya saya cuma minta suntik yang bagus,” tutur Siti.
Seusai mendapatkan penanganan medis dan suntikan di kedua tangannya, Hasan dan Siti bertolak pulang dengan mengendarai sepeda motor.
Namun, ketika melintas di kawasan Jalan Alassumur, kondisi Hasan mendadak drop dan ia mengalami kejang-kejang hebat di atas kendaraan.
Kepanikan Siti memancing perhatian warga sekitar. Sekitar pukul 10.00 WIB, warga membantu mengevakuasi Hasan menggunakan pikap menuju ruang perawatan RSUD Waluyo Jati Kraksaan guna mendapatkan pertolongan darurat.
Humas RSUD Waluyo Jati, Anang, menjelaskan bahwa saat tiba di rumah sakit, pasien berada dalam kondisi tidak sadarkan diri dan mengalami kejang-kejang. Tim medis langsung melakukan pemeriksaan intensif.
”Pak Nur Hasan dibawa ke sini memang sudah dalam keadaan tidak sadar dan kejang-kejang, kami cek gula darah dan jantungnya normal. Akhirnya segera kami lakukan CT scan, ternyata ada penggumpalan darah di otak,” ujar Anang.
Meskipun tim dokter RSUD Waluyo Jati telah memberikan penanganan medis darurat, kondisi kesehatan Hasan terus menurun. Hasan akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (4/10/26) sekitar pukul 01.00 WIB.
Menanggapi insiden tersebut, dr. R-H membantah tuduhan bahwa tindakan penyuntikan yang dilakukannya menjadi pemicu kematian pasien.
Ia menjelaskan bahwa Hasan memiliki riwayat penyakit kronis selama lima tahun, dan tindakan medis yang berikannya murni untuk meredakan keluhan lambung.
“Itu sebenarnya hanya kebetulan. Memang pasien sudah sakit selama 5 tahun. Nah yang saya suntikkan itu cuma untuk lambung, kan obatnya juga belum sempat diminum,” klaim dr. R-H.
Ia juga membantah tuduhan bahwa dirinya tidak melakukan anamnesis (pemeriksaan riwayat) sebelum penyuntikan. Ia menyatakan telah menanyakan kondisi awal pasien sesuai dengan prosedur operasional medis.
Pasca meninggalnya Hasan, dr R-H sempat mendatangi rumah duka sebagai bentuk empati dan kepedulian kemanusiaan, bukan karena rasa takut atau bentuk pengakuan bersalah.
“Kedatangan saya ke rumah duka bukan karena saya takut, bukan karena saya salah, tetapi toleransi saja,” pungkasnya. (*)












