Pasuruan, – Aktivitas penyembelihan di Rumah Potong Hewan (RPH) Blandongan, Kota Pasuruan yang sempat terhenti selama dua hari, mulai menemui titik terang. Pemerintah Kota Pasuruan memastikan kondisi tersebut dipicu persoalan klasik: pasokan terbatas dan harga sapi yang melonjak.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Mualif Arief mengungkapkan, pada Jumat hingga Sabtu (3-4 April 2026), para pedagang dan jagal memang memilih tidak melakukan penyembelihan.

“Bukan karena mogok tanpa alasan. Mereka kesulitan mendapatkan sapi. Kalaupun ada, harganya sudah tinggi dan memberatkan,” jelas Mualif, Selasa (7/4/2026).

Dalam kondisi normal, RPH Blandongan mampu memotong sekitar 10 ekor sapi per hari. Namun beberapa hari terakhir, aktivitas tersebut sempat berhenti total akibat tersendatnya pasokan.

Meski begitu, kondisi mulai berangsur membaik sejak Minggu. Aktivitas penyembelihan kembali berjalan, walaupun volumenya belum sepenuhnya pulih.

“Sejak Minggu sudah mulai ada penyembelihan lagi. Hari ini juga berjalan, tapi jumlahnya memang belum kembali normal,” tambahnya.

Dari hasil penelusuran dinas, lonjakan harga sapi menjadi faktor dominan. Kenaikan harga disebut berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta per ekor, yang berdampak langsung pada pedagang.

Terbatasnya stok sapi di dalam Kota Pasuruan turut memperparah situasi. Populasi sapi lokal yang hanya berkisar 150 hingga 160 ekor dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Pasokan dalam kota sangat terbatas. Selama ini pedagang sangat bergantung dari luar daerah,” ujarnya.

Ketergantungan tersebut membuat harga daging di pasar lokal ikut terdongkrak ketika harga sapi di daerah pemasok mengalami kenaikan.

“Intinya ada pada harga sapi yang naik. Itu yang paling berpengaruh,” tegasnya.

Terkait isu dugaan peredaran sapi gelonggongan yang sempat ramai dibicarakan, Mualif menegaskan, hal tersebut berada di luar kewenangan dinasnya.

“Untuk itu ranahnya penegak hukum. Dan memastikan juga tidak bisa kasat mata, harus melalui uji laboratorium,” tandasnya.

Sebelumnya, para pedagang daging di Kota Pasuruan sempat melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes. Mereka menyoroti mahalnya harga sapi hingga munculnya dugaan peredaran daging gelonggongan, serta mendesak pemerintah segera turun tangan. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.