Probolinggo,- Dua bocah tenggelam dan hanyut di Sungai Pancarglagas, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Satu diantara dua korban, dinyatakan hilang sementara satu orang lainnya ditemukan.

Korban yang ditemukan adalah Aurora Nafisa Firdausi (9), warga Desa Triwungan, Kecamatan Kotaanyar. Korban berhasil ditemukan oleh tim gabungan namun dalam keadaan meninggal dunia.

Satu korban lain adalah Aura Firza Farzana (10), warga Dusun Kalianyar 3 RT/12 RW/03, Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton. Hingga Minggu (22/2/2026) sore, korban masih belum ditemukan.

Dua bocah ini dilaporkan hanyut saat bermain di tepian Sungai Pancarglagas, tepatnya di Desa Randumerak  Sabtu (21/06/2026) siang. Diduga, keduanya tergelincir ke sungai saat asyik bermain.

Bupati Probolinggo, Mohammad Haris yang datang ke rumah keluarga korban Aura Firza Farzana bersama Wakil Bupati Fahmi AHZ dan jajaran perangkat daerah, menyatakan keprihatinannnya.

Bupati menegaskan, upaya pencarian korban hilang tidak akan dihentikan. Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Probolinggo bersama relawan dan unsur terkait terus menyisir aliran sungai.

Bahkan, bantuan personel datang dari daerah tetangga seperti Banyuwangi dan Jember, serta dukungan unsur TNI AL, untuk memaksimalkan pencarian.

“Ini kita tidak berhenti. Teman-teman BPBD dan tim SAR dibantu dari daerah tetangga, termasuk angkatan laut, terus melakukan pencarian. Prinsipnya, kita tidak pernah bisa sepenuhnya menghindari bencana, tetapi yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir dampaknya,” ujar Gus Haris, panggilannya.

Ia menjelaskan, Kabupaten Probolinggo memiliki luas wilayah sekitar 1.690 kilometer persegi dengan kontur geografis yang beragam dan rawan bencana, terlebih dalam kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini.

Hujan deras yang mengguyur wilayah berpenduduk 1,3 juta jiwa itu, sambungnya  sejak beberapa hari terakhir menyebabkan debit air sungai meningkat drastis.

“Kami mohon kepada seluruh orang tua agar tidak membiarkan putra-putrinya berada di sekitar sungai, apalagi saat arus deras. Kita tidak pernah tahu risiko yang bisa terjadi, yang bisa kita lakukan adalah menghindari dan menghitung risiko agar musibah serupa tidak terulang,” bebernya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, telah menginstruksikan kepada BPBD dan dinas terkait untuk melakukan normalisasi sungai serta memperkuat langkah mitigasi bencana.

“Edukasi kepada masyarakat juga akan digencarkan, terutama di wilayah yang memiliki potensi kerawanan tinggi,” tutur Gus Haris.

Cuaca ekstrem, menurutnya, memang tidak dapat dihindari. Namun kesiapsiagaan dan kewaspadaan kolektif menjadi kunci untuk menekan risiko korban jiwa.

“Kita saling menjaga. Pemerintah hadir, tetapi masyarakat juga harus meningkatkan kewaspadaan,” Gus Haris memungkasi.

Selain dukungan moril, dalam kesempatan itu, Bupati Gus Haris dan Wakil Bupati Ra Fahmi AHZ, juga memberikan tali asih kepada keluarga korban. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.