Probolinggo,– Dalam kurun waktu sekitar dua bulan terakhir, tiga kasus bunuh diri terjadi di Kota Probolinggo. Terakhir, pilihan sepihak untuk mengakhiri hidup ini merenggut nyawa pelajar SMA.

Dosen Psikologi Institut Ahmad Dahlan (IAD) yang juga psikolog di UPTD PPA Dinsos P3A Kota Probolinggo, Aries Dirgayunita menyebut bahwa tindakan bunuh diri pada anak dipengaruhi oleh faktor usia yang berada pada fase perkembangan remaja.

Pada fase ini, pengakuan dari teman sebaya menjadi hal yang sangat penting bagi anak. Ketika seorang anak merasa dekat dengan lingkungannya namun kemudian diabaikan, otak akan memproses hal tersebut sebagai penolakan sosial yang menyakitkan.

“Jika anak merasa tidak lagi memiliki tempat di lingkungannya, akan muncul perasaan hampa yang dapat memicu dorongan kuat untuk mengakhiri hidup,” jelas Aries, Jum’at (9/1/26).

Selain itu, perkembangan Prefrontal Cortex, yakni bagian otak yang berfungsi mengontrol emosi, pada remaja belum matang sepenuhnya.

Sementara itu, emosi anak sedang berada pada fase yang sangat bergelora, sehingga cenderung mengambil keputusan secara spontan.

Aries menambahkan, media sosial turut berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak. Tayangan kehidupan yang terlihat bahagia di media sosial dapat membuat anak membandingkan diri, sehingga merasa masalah yang dihadapinya menjadi sangat berat.

“Rendahnya kemampuan bertahan, beradaptasi, dan bangkit secara positif, serta kurangnya coping skill atau kemampuan mental dan perilaku dalam menghadapi tekanan dan stres, membuat kematian dianggap sebagai cara untuk menghilangkan rasa sakit,” beber dia.

Ia menekankan pentingnya dukungan emosional dari orang terdekat dengan membangun komunikasi yang terbuka dan mengajak anak bercerita tentang masalah yang dihadapi.

Hal tersebut dapat menjadi salah satu jalan keluar bagi anak untuk melepaskan beban emosinya tanpa mengambil jalan bunuh diri.

“Kepada orang tua, berikan perhatian dan jangan meremehkan masalah anak meskipun terlihat sepele. Peran orang tua sangat penting dalam perkembangan psikologis anak,” tandasnya.

Selain peran keluarga, peran sekolah juga dinilai sangat krusial karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di lingkungan sekolah.

Deteksi dini oleh guru menjadi langkah utama untuk memahami dinamika perkembangan siswa.

“Sekolah dapat menyediakan layanan konseling yang aman dan nyaman, dengan memposisikan guru sebagai sahabat bagi anak,” Aries memungkasi. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.