Menu

Mode Gelap
Gerakan Solidaritas untuk Affan Kurniawan, Penegakan Keadilan hingga Salat Ghaib Pemkab Jember Perpanjang Bebas Denda Pajak hingga Akhir Tahun, Tarif Retribusi Pasar Juga Diturunkan Jelang Konfercab NU Kraksaan, Nahdliyin Mulai Suarakan Uneg-unegnya Sesalkan Kerusuhan di Jakarta, Ojol Probolinggo Gelar Tabur Bunga untuk Affan Kurniawan Kisah Pilu Guru Honorer di Jember; Tempuh Jarak 13 KM, Wafat Usai Melahirkan Dulu Hanya Makan Sekali Sehari, Kini Siswa SD Ini Bisa Makan Dua Kali Berkat Program MBG

Budaya · 24 Des 2022 12:43 WIB

Loemadjang Mbiyen, Menikmati Romantisme Lumajang di Era Kolonial


					Loemadjang Mbiyen, Menikmati Romantisme Lumajang di Era Kolonial Perbesar

Lumajang,- Proklamator RI, Soekarno, mempopulerkan sebuah istilah yang disebut ‘Jas Merah’, yang artinya Jangan Sesekali Melupakan Sejarah. Sejarah dinilai amat penting, karena menjadi identitas yang melekat, baik personal maupun kelompok.

Memahami pentingnya sejarah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang pun menggelar event Loemadjang Mbiyen, Jumat (22/12/22) sore, yang bertempat di kawasan PG Jatiroto, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang.

“Melalui Lumajang Mbiyen kita ekspose heritage dan kenangan masa lalu Kabupaten Lumajang,” kata Bupati Lumajang, Thoriqul Haq.

Kawasan PG. Jatiroto dipilih karena merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia dan merupakan peninggalan kolonial Belanda. Bupati berharap event ini mampu membangkitkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Terima kasih yang telah berpartisipasi, masyarakat bisa datang, yang jualan bisa jualan, kalau masuk PKL pedagang kecil diberikan tempat supaya ekonomi lebih tumbuh dan berjalan,” ujarnya.

Menurutnya, pemilihan lokasi event Lumajang Mbiyen ini mampu membangkitkan kenangan masa lalu. “Apresiasi teman-teman panitia nuansa jaman dulunya terasa,” puji Cak Thoriq.

Thoriq menambahkan, event ini digelar selama tiga hari, sejak tanggal 23 hingga 25 Desember 2022. Lumajang Mbiyen dikemas tematik 4 zona, yakni zona hiburan, zona pasar rakyat, zona heritage dan zona Pedagang Kaki Lima (PKL).

“Pasar rakyat diisi oleh UMKM, lembaga dan masyarakat, 80 persen adalah masyarakat Jatiroto,” sebut Cak Thoriq.

Salah satu pengunjung Loemadjang Mbiyen, Dian Rahmawati mengaku sangat senang dengan event ini. Selain sebagai sarana hiburan, juga untuk edukasi bagi anak-anaknya.

“Jadi anak-anak yang diajak ke sini mendapat tambahan pengetahuan yang bermanfaat, kami dapatkan rasa kekeluargaan, jarang berkumpul namun kita bisa berkumpul dengan baju tempo dulu sehingga terasa saling bersaudara,” urai Dian.

“Perasannya senang, bisa pakai baju zaman dulu, karena sebelumnya gak tahu dan sekarang menjadi tahu, baru pertama kali ke sini,” ia menambahkan.(*) 

 

Editor: Efendi Muhammad

Publisher: Zainul Hasan R

Artikel ini telah dibaca 67 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Terinspirasi Pejuang Kemerdekaan, Peserta Tajemtra Berusia 70 Tahun ini Tuntaskan Rute 30 KM

24 Agustus 2025 - 08:33 WIB

15 Ribu Peserta Semarakkan Tajemtra 2025, Termasuk WNA China

24 Agustus 2025 - 02:02 WIB

Tajemtra 2025 Siap Digelar, 15.171 Peserta Terdaftar

22 Agustus 2025 - 19:22 WIB

Dorong Wisatawan Kenali Budaya Tengger, Bupati Gus Haris Siapkan Kalender Even di Bromo

9 Agustus 2025 - 20:51 WIB

Hari Raya Karo, 3 Desa Lereng Bromo Probolinggo Gelar Ritual Tari Sodoran

9 Agustus 2025 - 18:19 WIB

Wisatawan Mancanegara Ramaikan Tradisi Jolen di Lereng Gunung Semeru

28 Juli 2025 - 19:28 WIB

Tradisi Ujung dan Ujub, Upaya Menolak Bala di Desa Kandangan

28 Juli 2025 - 18:00 WIB

Dari Tumpeng hingga Sayuran, Warga Berebut Isi Jolen Penuh Kegembiraan

28 Juli 2025 - 14:24 WIB

Ada Nilai Filosofis Calon Arang dalam Pementasan Seni Menyuarakan Dharma

21 Juli 2025 - 09:26 WIB

Trending di Budaya