Pasuruan, – Lonjakan harga bahan baku kimia membuat pelaku usaha mebel di Kota Pasuruan kian tertekan. Dalam beberapa hari terakhir, harga sejumlah kebutuhan produksi seperti politur, tiner, hingga bahan pelarut melonjak tajam.
Salah satu perajin mebel, Lukman mengungkapkan, kenaikan harga berlangsung cepat dan cukup signifikan. Ia menyebut, harga politur semprot yang sebelumnya sekitar Rp100 ribu per galon kini melonjak menjadi Rp150 ribu. Sementara tiner kualitas A naik dari Rp10 ribu menjadi Rp14 ribu per liter.
“Kenaikannya cukup tinggi, bisa tembus sekitar 40 persen. Tapi kami tidak bisa ikut menaikkan harga terlalu besar, paling sekitar 10 persen ke konsumen,” katanya, Kamis (9/4/2026).
Kondisi ini membuat margin keuntungan pelaku usaha semakin tergerus. Lukman mengaku, harus mengambil langkah hati-hati, bahkan tak jarang menunda produksi atau pesanan jika harga belum menemukan titik kesepakatan.
“Kalau tetap diproduksi dengan kondisi sekarang, risikonya rugi. Jadi kami pilih menunda dulu daripada jalan tapi tidak kembali modal,” ujarnya.
Sementara itu, hasil pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pasuruan menunjukkan, kenaikan harga juga terjadi di tingkat distributor hingga toko bahan baku.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono mengatakan, lonjakan harga bervariasi, mulai 20 persen hingga mencapai 80 persen untuk jenis tertentu.
“Variasinya cukup lebar, ada yang naik 20 persen, bahkan ada yang sampai 80 persen tergantung jenis bahannya,” jelasnya.
Di lapangan, harga tiner dalam kemasan drum dilaporkan naik dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2,45 juta. Bahkan, spiritus melonjak lebih tinggi dari Rp2 juta menjadi Rp3,5 juta per drum atau naik sekitar 75 persen.
“Kenaikan mulai terasa sejak awal April, dan sebagian komoditas lain sudah lebih dulu naik setelah Lebaran,” tambahnya.
Tak hanya tiner dan spiritus, sejumlah bahan lain seperti, cat, lem, dan bahan finishing juga naik sekitar kisaran 20 hingga 80 persen. Meski demikian, beberapa komponen seperti busa dan kain masih relatif stabil. Hanya saja, produk baru seperti spon dilaporkan ikut naik sekitar 20 persen.
Mulyono menjelaskan, kenaikan harga dipicu oleh faktor pasokan dari luar daerah hingga pengaruh global. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat harga mudah terdampak fluktuasi, termasuk harga minyak dunia dan kondisi geopolitik.
“Sebagian besar bahan baku masih bergantung dari luar daerah, bahkan impor. Jadi saat pasokan terbatas atau harga dari supplier naik, dampaknya langsung terasa di daerah,” pungkasnya. (*)













