Probolinggo,– Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) akan melakukan penataan kawasan dengan membangun Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT).
Rencana penataan JLKT tersebut disampaikan dalam sosialisasi yang digelar di ruang pertemuan salah satu hotel di Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Senin (6/4/26).
Sosialisasi ini dihadiri oleh tokoh adat Tengger, pemerintah desa, pemerintah kabupaten dari empat wilayah, para pemangku kepentingan terkait, serta pelaku jasa wisata di kawasan Gunung Bromom
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, penataan JLKT penting dilakukan karena memiliki beberapa tujuan.
Tujuannya yakni mempertahankan nilai budaya Tengger dalam pengelolaan TNBTS, serta memulihkan kondisi biofisik laut pasir dan padang rumput di kawasan kaldera seluas kurang lebih 1.000 hektare.
“Selain itu, penataan ini juga dilakukan karena jalur di kaldera selama ini tidak tertata, sehingga memicu kerusakan ekosistem dan degradasi habitat, seperti anggrek Tosari, rumput Malelo, dan ular Bhumi Tengger,” ujar Rudijanta.
Ia menjelaskan, penataan dilakukan dengan memasang patok-patok yang membentang dari pintu masuk Jemplang, Malang, menuju pintu masuk Cemorolawang, Probolinggo, hingga pintu masuk Wonokitri, Pasuruan.
Jalur yang ditandai dengan patok tersebut, memiliki panjang sekitar 13 kilometer dengan lebar 18 meter. Panjang ini merupakan hasil revisi dari rencana sebelumnya yang lebih panjang karena sempat melintasi tebing sisi timur.
Revisi dilakukan dengan mempertimbangkan adanya area sakral. Dengan panjang 13 kilometer, jumlah patok yang akan dipasang mencapai 9.725 buah dengan setiap patok fihubungkan tali sling.
“Tujuannya agar kendaraan, baik jip maupun roda dua, tidak memasuki area terlarang, seperti kawasan sakral maupun area konservasi yang memang tidak boleh diakses,” jelasnya.
Selain penataan jalur, BBTNBTS juga akan membangun tiga rest area yang dilengkapi fasilitas toilet di kawasan lautan pasir. Lokasinya berada di sekitar pos Jemplang, Cemorolawang, dan Wonokitri.
Rest area tersebut akan diisi oleh pedagang yang telah didata sebelumnya. Selain itu, juga akan dibangun fasilitas lain berupa empat titik parkir, termasuk area parkir kuda, serta 60 titik sumur resapan.
“Pengerjaan akan dimulai pada tanggal 17 April 2026 dengan target selesai pada 7 Oktober 2026. Kami juga meminta dukungan dari berbagai pihak agar pengelolaan Bromo ke depan semakin baik,” beber Rudijanta.
Selama proses penataan JLKT berlangsung, wisata Gunung Bromo tetap dibuka. “Nantinya akan ada petugas jaga untuk memastikan keamanan dan kelancaran selama pengerjaan berlangsung,” sampainya.
Dukun Pandita Suku Tengger, Sutomo mengaku mendukung pembangunan dan penataan JKLT ini. Sebab dari segi kepariwisataan, bisa memproteksi kawasan koservasi, sehingga jalur kendaraan dapat tertata.
“Dengan adanya JLKT ini, harapannya kedepan dapat benar-benar menjaga kawasan konservasi disamping tetap menjaga tempat sakral yang ada di Bromo,” harapnya. (*)













