Jember, – Kombinasi meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendorong lonjakan inflasi di Kabupaten Jember pada Februari 2026.
Kondisi tersebut membuat Jember mencatatkan inflasi tertinggi di Jawa Timur pada periode tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember, inflasi month-to-month (m-to-m) atau bulan ke bulan di Jember pada Februari 2026 mencapai 1,14 persen, tertinggi dibandingkan daerah lain di Jawa Timur.
Lonjakan inflasi ini terjadi meskipun pelaksanaan program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jember belum sepenuhnya berjalan.
Hingga kini, baru sekitar 140 dapur MBG yang beroperasi dari total rencana 270 titik.
Kepala BPS Kabupaten Jember, Peni Dwi Wahyu Winarsi, menjelaskan, inflasi pada Februari 2026 didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di antaranya cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan jagung manis.
“Komoditas dengan andil terbesar masih cabai rawit, kemudian emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan jagung manis,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Secara rinci, komoditas pangan yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi bulanan di Jember antara lain cabai rawit sebesar 0,33 persen, daging ayam ras 0,22 persen, beras 0,11 persen, serta jagung manis 0,07 persen.
Peni menjelaskan, kenaikan harga bahan pokok saat Ramadan sebenarnya merupakan fenomena yang hampir terjadi setiap tahun karena meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Namun pada tahun ini, tekanan harga menjadi lebih besar karena adanya tambahan permintaan dari program MBG.
“Kita lihat sebelum MBG dan setelah ada MBG memang ada pengaruh. Biasanya setiap Ramadan harga naik, tapi kemarin juga dipengaruhi oleh program MBG,” jelasnya.
Sementara itu, Statistisi Ahli Muda BPS Jember, Meri Vita, mengatakan, momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) memang kerap diiringi dengan kenaikan harga bahan pangan akibat meningkatnya permintaan pasar.
Namun, menurutnya, kenaikan harga semakin terasa karena kebutuhan pasokan bahan pangan untuk dapur MBG juga meningkat pada saat yang sama.
Ia mencontohkan pada komoditas daging ayam ras, di mana sebagian peternak memasok produksi mereka langsung ke dapur SPPG, sementara permintaan masyarakat di pasar juga sedang tinggi.
“Terjadi perebutan pasokan antara dapur SPPG dan konsumen di pasar. Akibatnya harga ayam naik dan masuk lima besar komoditas penyumbang inflasi bulan ini,” pungkasnya. (*)












