Lumajang, – Deru lahar hujan dari Gunung Semeru tak hanya menimbun rumah, tetapi juga memutus harapan warga Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Sejak 5-6 Desember 2025, material banjir lahar mengubur sebagian rumah dan memutus akses utama dusun setelah jembatan limpas di atas Sungai Regoyo terputus.
Sebanyak 135 kepala keluarga kini hidup dalam keterisolasian. Aktivitas ekonomi lumpuh, anak-anak kesulitan menuju sekolah, dan distribusi logistik tersendat.
Untuk keluar dusun, warga harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi derasnya aliran Sungai Regoyo yang sewaktu-waktu kembali membawa material vulkanik dari lereng Semeru.
Material lahar yang mengeras kini membentuk lanskap kelabu. Rumah-rumah setengah terkubur, pekarangan berubah menjadi hamparan pasir dan batu, sementara suara gemuruh air sungai menjadi pengingat bahwa ancaman belum sepenuhnya reda.
Setiap hujan turun di puncak Semeru, kecemasan kembali menyelimuti dusun kecil itu.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang memastikan tidak akan membersihkan maupun membangun ulang rumah warga.
Pasalnya, Dusun Sumberlangsep telah ditetapkan sebagai Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau zona merah, wilayah dengan tingkat risiko tertinggi terhadap ancaman erupsi dan lahar.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati mengatakan, pembangunan ulang di kawasan tersebut tidak mungkin dilakukan.
Menurutnya, membangun kembali rumah atau jembatan sama saja membuka kembali ruang aktivitas di area yang secara ilmiah dinyatakan berbahaya.
“Kalau dibangun jembatan, itu sama saja memfasilitasi warga tetap tinggal di zona merah,” katanya, Minggu (1/3/2026).
Relokasi menjadi satu-satunya opsi yang ditawarkan pemerintah. Lokasi baru dijanjikan tidak jauh dari permukiman lama agar warga tetap bisa mengakses kebun sebagai sumber penghasilan.
“Warga Sumberlangsep mau tidak mau, suka tidak suka, di sana sudah masuk zona merah, jadi tidak mungkin pemerintah membangunkan (rumah) disana,” kata Indah. (*)












