Probolinggo,– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menyebut, puncak musim hujan segera berakhir. Hal itu berdasarkan informasi prediksi dari singkatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif mengatakan, berdasarkan informasi dari BMKG Januari menjadi puncak musim hujan di wilayah Kabupaten Probolinggo, atau setidaknya tersisa tiga hari lagi.
Kondisi tersebut terbukti dengan tingginya intensitas curah hujan yang berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Berdasarkan analisa BMKG, Januari ini merupakan puncak musim hujan di Kabupaten Probolinggo. Bahkan, prediksi curah hujan bisa mencapai di atas 500 milimeter, yang masuk kategori sangat ekstrem,” kata Oemar, Kamis (29/1/26).
Ia menjelaskan, tingginya curah hujan tersebut berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir di sejumlah wilayah, terutama di daerah aliran sungai dan kawasan dengan sistem drainase yang belum optimal.
Oleh karena itu, BPBD Kabupaten Probolinggo terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan bersama instansi terkait.
Selain Januari, Oemar juga menyebut bahwa intensitas hujan masih berpotensi tinggi pada bulan Februari mendatang. Meski demikian, wilayah sebaran hujan lebat diperkirakan mulai berkurang secara bertahap.
“Untuk bulan Februari, curah hujan diprediksi masih tergolong sangat lebat dan dimungkinkan kondisi ini dapat berlanjut hingga bulan Maret. Namun, daerah prediksinya sudah mulai menyempit atau berkurang,” beber Oemar.
Menghadapi kondisi cuaca ekstrem tersebut, BPBD Kabupaten Probolinggo tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga mulai menyiapkan langkah-langkah mitigasi jangka panjang.
Salah satunya melalui pemetaan wilayah rawan bencana secara menyeluruh. “Kami akan terus melakukan pemetaan dari hulu hingga hilir secara komprehensif,” tuturnya.
“Tujuannya agar setiap langkah penanganan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan perencanaan, sehingga kejadian banjir tidak terus berulang di masa yang akan datang,” Oemar menegaskan.
Ia menilai, pemetaan penting untuk menentukan titik-titik kritis yang perlu mendapatkan penanganan prioritas, baik melalui normalisasi sungai, perbaikan saluran air, maupun penguatan koordinasi lintas sektor.
“Peran serta masyarakat juga sangat penting. Ketika ada tanda-tanda potensi bencana, kami berharap warga segera melapor agar bisa segera ditindaklanjuti,” sampainya. (*)












