Probolinggo,- Pencurian menghantui dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Kali ini, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sokaan 1 di Kecamatan Krejengan, menjadi sasaran pelaku pencurian dengan pemberatan.

Ironisnya, peristiwa ini bukan kali pertama. Dalam kurun dua tahun terakhir, sekolah tersebut tercatat sudah tiga kali dibobol maling.

Pencurian terbaru terjadi pada Senin (19/1/26) sekitar pukul 02.00 WIB. Pelaku diduga masuk ke lingkungan sekolah dengan cara merusak gembok pintu utama kantor guru.

Akibat kejadian tersebut, sejumlah barang inventaris sekolah hingga barang pribadi guru hilang. Total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 50 juta.

Kepala SDN Sokaan 1, Romli menyebut, ia baru mengetahui kejadian tersebut setelah tiba di sekolah pada pukul 06.15 WIB. Sebelumnya, informasi dugaan pencurian beredar di grup WhatsApp (WA) guru, namun ia masih dalam perjalanan dari rumahnya di Kecamatan Gending.

“Saya baru memastikan setelah sampai di sekolah. Ternyata benar, kantor guru sudah dibobol. Gembok pintu utama dirusak,” ujar Romli saat ditemui di lokasi kejadian.

Dari hasil pengecekan awal, pelaku diduga lebih dari satu orang. Dugaan ini diperkuat oleh rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di luar ruangan kantor sekolah.

Dalam rekaman CCTV, terlihat satu orang pelaku membawa tas ransel dan masuk ke area kantor sekitar pukul 02.00 WIB. Sementara itu, CCTV yang berada di dalam kantor guru tidak berfungsi optimal karena mengalami gangguan.

“CCTV ada dua, satu di luar dan satu di dalam. Yang di dalam sedang error sejak Sabtu, jadi tidak merekam kejadian. Yang di luar masih aktif dan merekam pelaku masuk,” beber dia.

Romli menduga, pelaku sudah cukup memahami kondisi dan situasi sekolah. Setelah merusak gembok, pelaku langsung menuju ruang guru dan mengacak-acak sejumlah meja dan lemari, khususnya milik guru dan bendahara sekolah.

Beruntung, pihak sekolah sudah mengantisipasi kejadian serupa dengan tidak menyimpan uang tunai di kantor.

“Biasanya yang pertama kali diacak selalu meja bendahara dan guru. Tapi karena belajar dari pengalaman sebelumnya, kami tidak menyimpan uang di sekolah,” ujarnya

Meski tidak mendapatkan uang tunai, pelaku membawa kabur sejumlah barang elektronik bernilai tinggi. Diantaranya 7 unit laptop Chromebook bantuan pemerintah pusat.

Selain itu, juga satu unit laptop pribadi guru merek HP, satu unit LCD proyektor merek Epson, serta satu unit speaker aktif portabel beroda.

“Chromebook itu bantuan dari pusat, jumlahnya tujuh unit. Selain itu ada laptop pribadi guru, proyektor, dan satu speaker aktif,” jelasnya.

Ia menduga, pola pencurian kali ini memiliki kemiripan dengan kejadian sebelumnya, meskipun belum dapat memastikan apakah dilakukan oleh pelaku yang sama.

Pihak sekolah sepenuhnya menyerahkan proses pengungkapan kasus kepada aparat kepolisian.

Sementara itu, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Sri Agus Indariyati, membenarkan bahwa laptop Chromebook yang hilang merupakan aset negara yang tercatat secara resmi di Kementerian Pendidikan.

“Kami akan meminta nomor seri Chromebook yang hilang. Biasanya tercatat di data inventaris atau dus penyimpanan. Itu akan kami laporkan ke kementerian agar bisa ditelusuri,” tuturnya.

Sri Agus menegaskan, Chromebook bantuan pemerintah tidak dapat diperjualbelikan secara bebas karena telah terkunci sistem dan terhubung langsung dengan pusat.

“Chromebook ini khusus untuk pembelajaran siswa. Akunnya terintegrasi dengan pusat dan penggunaannya terdata. Jadi tidak bisa digunakan atau dijual sembarangan,” ucapnya.

Ia mengakui, kasus pencurian di SDN Sokaan 1 memang terjadi berulang kali. Sebelumnya, sekolah sempat kehilangan uang tunai sekitar Rp 4 juta. Dinas akan mendorong pengamanan ekstra guna mencegah kejadian serupa.

“Ini sudah kejadian ketiga. Solusi ke depan, pintu kantor akan ditralis dan dilakukan penambahan CCTV,” imbuhnya.

Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo juga akan melaporkan kasus ini ke inspektorat serta kementerian terkait untuk proses administrasi, termasuk penghapusan aset dan upaya penggantian.

Langkah tersebut dilakukan agar kegiatan belajar mengajar, termasuk pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), tidak terganggu.

“ANBK dijadwalkan sekitar April. Kami akan mengupayakan solusi agar siswa tidak dirugikan,” wanti Sri Agus.

Kapolsek Krejengan, Iptu Miftahol Rahman, membenarkan adanya laporan pencurian tersebut. Pihak kepolisian telah mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Anggota kami sudah turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan dan pengumpulan barang bukti,” tandas Kapolsek. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.