Lumajang, – Situs Selogending bukan sekadar tumpukan batu kuno. Di kawasan ini tersimpan jejak peradaban tua yang diyakini telah ada sejak zaman megalitikum.
Situs tersebut menjadi saksi bagaimana leluhur nusantara membangun kehidupan, menjalankan ritual, serta menanamkan nilai-nilai tuntunan hidup yang diwariskan hingga kini.
Romo Dukun sekaligus juru kunci Situs Selogending, Gatot menjelaskan, Selogending merupakan salah satu cikal bakal peradaban leluhur. Keberadaannya dibuktikan melalui susunan batu, punden berundak, serta petilasan yang masih terjaga sampai sekarang.
“Selogending ini sudah ada sejak zaman megalitikum. Dari bukti-bukti yang ditinggalkan oleh leluhur kita dulu, tempat ini menjadi ruang sakral dalam menjalani kehidupan,” kata Gatot, Minggu (4/1/2026).
Di kawasan Situs Selogending terdapat petilasan yang masing-masing memiliki makna filosofis. Di dekat pintu masuk terdapat petilasan Dewi Sri atau Mbok Sri Sedono, yang dikenal sebagai Dewi Kemakmuran.
Sosok ini erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat petani yang menggantungkan hidup pada hasil bumi.
Sementara itu, di sisi kanan pintu masuk terdapat petilasan Mbah Tejo Gedang yang dipercaya sebagai penjaga kawasan situs.
Selanjutnya, di bagian kiri terdapat petilasan Mbah Tejo Kusumo dengan simbol Linggayoni, yang melambangkan bapak dan ibu atau Bopo Biyung dalam kepercayaan Jawa.
“Linggayoni itu lambang dari awal mula kehidupan manusia, dari bapak dan ibu. Dari situlah keberadaan kita dimulai,” jelas Gatot.
Di bagian tengah kawasan situs terdapat petilasan Mbah Bukulon. Tempat ini dulunya digunakan sebagai pusat ritual dan pemujaan.
Pada masa itu, sebelum hadirnya agama-agama besar, leluhur mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih atas hasil kehidupan melalui ritual dan persembahan.
“Mayoritas masyarakat dulu adalah petani. Ketika hasil panen melimpah, rasa syukur itu diwujudkan lewat ritual di sini,” katanya.
Situs Selogending juga memiliki peninggalan punden berundak yang menjadi ciri khas budaya megalitikum.
Gatot menegaskan, bentuk undakan tersebut bukan hasil rekayasa modern, melainkan struktur asli dari tanah dan batu yang telah tertata sejak zaman dahulu.
Naik ke bagian atas, terdapat petilasan Bahwadung Prabu atau Wadung Prabu yang ditandai dengan batu berdiri. Batu ini melambangkan sosok pemimpin atau raja.
Gatot menyebut, sejumlah raja pada masa kerajaan pernah singgah di Situs Selogending.
“Salah satunya Prabu Siliwangi. Bukti kehadirannya ditandai dengan Pandan Betawi yang ada di kawasan ini,” ungkapnya.
Di sudut lain kawasan situs terdapat bagian yang dianggap paling tua yakni, Selogending itu sendiri. Nama Selogending memiliki makna mendalam.
“Selo” berarti batu, sementara “Gending” dimaknai sebagai hitungan, nyanyian, atau pujian. Dalam filosofi leluhur, batu atau watu dimaknai sebagai waton atau tuntunan hidup.
“Leluhur berharap anak cucunya bisa meniru dan meneruskan ajaran-ajaran kehidupan, seperti tata cara hidup, ritual, dan sopan santun,” ucapnya.
Meski telah mengalami pemugaran agar sesuai dengan perkembangan zaman, nilai-nilai utama Situs Selogending tetap dijaga. Seiring masuknya berbagai agama, corak ritual di kawasan ini pun mengalami penyesuaian.
Kini, Situs Selogending terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang latar belakang agama dan kepercayaan.
Menurut Gatot, tempat ini merupakan warisan bersama dari para leluhur yang mengakui semua anak cucunya.
“Di sini semua orang boleh masuk. Leluhur kita tidak memandang perbedaan. Siapa pun yang datang ke sini adalah anak cucunya,” pungkasnya. (*)












