Lumajang, – Ada keluarga yang hidup dengan pengeluaran kurang dari Rp500 ribu per bulan. Inilah potret keseharian keluarga-keluarga di Lumajang yang masuk dalam kategori desil 1, kelompok masyarakat paling rentan secara ekonomi menurut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Di tengah kondisi tersebut, Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi tumpuan harapan, bukan hanya sebagai bantuan sosial, tapi sebagai penyambung hidup.
Koordinator Kabupaten PKH Lumajang, Akbar Al-Amin menjelaskan, bahwa penyaluran bantuan kini tak lagi menggunakan pendekatan konvensional, melainkan berbasis desil. Yaitu klasifikasi kesejahteraan masyarakat yang dibagi menjadi 10 kelompok.
“Untuk desil 1, pengeluaran per bulan tidak lebih dari Rp500 ribu. Mereka inilah yang jadi prioritas utama penerima manfaat PKH,” kata Akbar, Minggu (31/8/25).
Kebijakan berbasis desil ini memperlihatkan arah baru penyaluran bansos yang lebih terstruktur dan berkeadilan, karena didasarkan pada ukuran kesejahteraan yang jelas. Program tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan sosial, tetapi juga sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga di kelompok rentan.
“Dengan data terukur, sasaran jelas, dan mekanisme transparan menjadi kunci agar bantuan benar-benar memberi manfaat bagi keluarga yang membutuhkan,” jelasnya.
Salah satu penerima manfaat, Siti (42), warga Kecamatan Randuagung mengaku, bantuan PKH yang ia terima sangat membantu.
“Suami saya hanya buruh serabutan. Kadang kerja, kadang tidak. Dulu bingung bayar seragam dan buku sekolah anak. Alhamdulillah, sekarang bisa terbantu dari PKH,” ujarnya. (*)
Editor: Ikhsan Mahmudi
Publisher: Keyra