Menu

Mode Gelap
Pedagang Terdampak Kebakaran Pasar Baru Pandaan Akan Direlokasi Modus Jual Beli Mobil Berkedok Kredit, Guru di Lumajang Terjebak Skema Tipu Daya Teman Sendiri Brak! Atap Kelas SMAN 1 Tiris Ambruk saat Jam Pelajaran, Puluhan Siswa Tertimpa Bikin Geger! Ular Piton 3 Meter Masuk ke Rumah Warga di Mayangan Kasus Campak Melonjak di Jember, Pencegahan Terhambat Imunisasi Dongkrak Produksi Pangan, Pemkab Jember Siapkan Pembangunan Irigasi Seluas 78 Hektare

Ekonomi · 10 Sep 2024 13:38 WIB

Terdampak PMK, Produksi Susu Sapi di Lumajang Menurun


					Peternak di Lumajang saat memerah susu sapi  di pagi hari. Perbesar

Peternak di Lumajang saat memerah susu sapi di pagi hari.

Lumajang, – Akibat ternaknya terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa tahun yang lalu, nasib peternak sapi perah di Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang jeblok. Jumlah sapi berkurang, demikian juga produksi susu sapinya juga menurun.

Sebelum adanya PMK, produksi susu di sekitar wisata Puncak B29 itu pernah mengalami masa puncak. Di mana, pada saat itu, setiap peternak sapi perah, dalam satu tahunnya bisa membeli mobil.

“Kalau sekarang mau beli roda empat gimana, sapi perahnya tinggal sedikit. Banyak yang dijual dengan harga 3-5 juta per ekor. Sekarang masih merintis lagi dari nol,” kata Waisnu, peternak sapi di Desa Kandangtepus, Selasa (10/9/24).

Dalam setahunnya, kata dia, kalau dulu bisa beli roda empat (mobil). Sekarang, untuk beli sepeda motor saja masih kurang.

“Ya itu karena akibat PMK itu, ada banyak sapi yang mati, ada juga sapi yang dijual dengan harga sangat murah dengan jumlah banyak. Kalau harga normalnya bisa Rp25 juta per ekor,” kata Waisnu.

Senada dengan Waisnu, Santo peternak sapi perah di Desa/Kecamatan Senduro mengatakan hal yang sama. Kini satu kandangnya hanya terisi  dua ekor sapi.

“Awalnya, saya memiliki sapi 18 ekor, sekali meras sampai 52 hingga 73 liter per harinya. Kalau sekarang, harus memulai dari nol lagi,” katanya.

Untuk diketahui harga susu sapi per hari ini mencapai Rp 3.500 per liternya. Meski begitu, harga tersebut masih bisa naik dan turun.

“Untuk harganya masih Rp3.500, dan harga itu masih bisa naik kapan saja,” pungkasnya. (*)

 


Editor: Ikhsan Mahmudi

Publisher: Keyra


Artikel ini telah dibaca 136 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kebanjiran Order, Persewaan Baju Karnaval di Pasuruan Raup Puluhan Juta

24 Agustus 2025 - 17:18 WIB

Dari Dapur Nenek ke Meja Milenial, Makanan Tradisional yang Menyatukan Zaman

24 Agustus 2025 - 15:15 WIB

Target Luas Tanam Tembakau di Kabupaten Probolinggo Belum Tercapai

18 Agustus 2025 - 17:22 WIB

Harga Tembakau di Probolinggo Mulai Melonjak, Tembus Rp 66 Ribu/Kg

15 Agustus 2025 - 14:48 WIB

Klaim Kondisi Sedang Tidak Baik, Gudang Garam Paiton tak Jamin Beli Tembakau

14 Agustus 2025 - 18:53 WIB

Cegah Penimbunan, Satgas Pangan Sidak Produsen dan Agen Beras di Pasuruan

14 Agustus 2025 - 17:48 WIB

Momentum Kemerdekaan, Okupansi Hotel di Bromo Naik hingga 70 Persen

12 Agustus 2025 - 18:57 WIB

Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf, BWI Probolinggo Masifkan Sosialisasi

12 Agustus 2025 - 18:02 WIB

Penjual Bendera Musiman Marak, Namun Omset Kini Turun

8 Agustus 2025 - 18:10 WIB

Trending di Ekonomi