Jelang Lebaran, Kampung Marning Wonoasih Ketiban Rejeki

WONOASIH,- Saat momen hari raya, aneka suguhan makanan ringan dan minuman bak menu wajib untuk disediakan di ruang tamu. Salah satu makanan yang biasa disuguhkan adalah marning atau bulir jagung yang dibumbui, dikeringkan lalu digoreng.

Siapa sangka, salah satu produsen makanan ringan tradisional ini ada di Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Seking banyaknya pembuat marning, membuat kawasan itu dikenal sebagai kampung marning.

Di kampung marning, perajin marning jumlahnya puluhan rumah tangga. Mulai dari marning yang dijual mentah atau marning yang belum digoreng hingga marning siap kunyah dengan varian rasa yang berbeda-beda.

Proses pembuatan makanan ringan ini ternyata sangat mudah. Jagung mentah yang didapat dari sawah petani dikupas hingga terlepas dari bonggolnya. Kemudian jagung-jagung tersebut direndam ke dalam air yang dicampur dengan kapur selama 2 sampai 3 jam.

Selanjutnya, jagung direbus dengan nyala api besar selama sekitar 5 hingga 8 jam. Jagung yang matang, akan terlihat mekar pertanda saatnya untuk ditiriskan. Proses selanjutnya, jagung dijemur hingga benar-benar kering.

Jagung kering lantas dirontokkan hingga menghasilkan buliran-buliran jagung yang siap untuk digoreng. Saat digoreng ini, bulir jagung bisa dilengkapi bumbu sesuai rasa yang diinginkan.

Salah satu penjual marning, Khoiriyah (42) mengatakan, selama bulan ramadhan, omset penjualan marning mentah dagangannya mencapai 2 kwintal. Padahal saat hari biasa, permintaan maksimal 50 kilogram (Kg) jagung per pekan.

“Harga marning mentah kita jual seharga Rp 15 ribu/Kg. Pembeli marning ini ternyata banyak berasal dari Kabupaten Probolinggo dan Lumajang,” ujar Khoiriyah, Sabtu (8/5/21).

Sementara pembuat marning yang sudah siap konsumsi, Taufik menuturkan, sebelum bulan ramadhan, sekali produksi ia hanya menghabiskan bahan baku sebanyak 1 ton. Kini selama bulan ramadhan saja, 1 ton jagung telah habis.

Baca Juga  Hidup Sebatangkara, Lansia Pantang Meminta

“Kita menyediakan empat varian rasa, mulai rasa sapi panggang, jagung manis, pedas dan original. Kemasan 1/2Kg, kita jual seharga Rp 17 ribu. Marning yang kita kasih label ‘JAMOEDIN’ ini sudah dipesan oleh pembeli asal Pandaan, Pasuruan, Banyuwangi dan kota lain,” ujarnya.

Lurah Kedunggaleng, Achmad Faiz mengatakan, jumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) marning di wilayahnya sekitar 30 rumah tangga. Tersebar di sejumlah RT dengan kebutuhan bakan baku sekitar 40 ton selama bulan ramadhan.

“Saat ini Kelurahan Kedunggaleng menjadi sentra marning dengan puluhan warga yang menjadi produsen tetap. Marning produksi warga ini sudah banyak di pesan di sejumlah daerah karena rasanya yang khas,” bangganya. (*)

Editor : Efendi Muhammad
Publisher : Albafillah

Baca Juga

Hantam Tiang PJU, Pemotor Tewas

KADEMANGAN,- Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jl. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kelurahan Ketapang, Kecamatan …