Probolinggo,– Ditengah keriuhan arus mudik yang kian modern dan serba cepat, denyut ekonomi pelaku usaha di pusat oleh-oleh Kelurahan Ketapang, Kota Probolinggo, justru tersendat.
Sejak beroperasinya jalan tol Pasuruan – Probolinggo (Paspro), omzet penjualan kios tradisional yang menjadi Pusat Oleh-oleh khas Probolinggo menjadi tidak menentu.
Padahal, Pusat Oleh-oleh yang terletak di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, ini dulunya sempat menjadi primadona para pemudik, yang ingin berbelanja buah tangan sebagai oleh-oleh bagi sanak saudara.
Bahkan, saking banyaknya pembeli, lalulintas jalur pantura yang menghubungkan Pasuruan, Kota Probolinggo, hingga Lumajang dan Situbondo kerap tersendat akibat banyaknya kendaraan pemudik yang parkir di bahu jalan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak Tol Paspro beroperasi, omzet pedagang oleh-oleh turun drastis. Pada arus mudik dan balik Lebaran tahun 2026, kondisi serupa kembali dirasakan pedagang.
Seperti yang dirasakan Lukman (61), pedagang asal Madiun yang telah lama tinggal di Kelurahan Ketapang. Ia mengaku kiosnya kini sepi pembeli karena banyak pemudik memilih melintas melalui jalan tol.
Terlebih pada Lebaran tahun ini, jalur tol telah dibuka hingga Besuki, Situbondo, sehingga pemudik tidak lagi turun ke Kota Probolinggo.
“Penurunan pembeli ini sudah dirasakan sejak ada tol, namun semakin terasa sejak pandemi Covid-19. Bahkan, kondisi sepi ini sama seperti Lebaran tahun 2025, ada pembeli tetapi hanya beberapa saja,” ujar Lukman, Selasa (24/3/25).
Lukman menambahkan, saat pusat oleh-oleh ini berada di masa kejayaannya, sekitar 10 hingga 15 tahun yang lalu, kios-kios pedagang bisa beroperasi selama 24 jam.
Namun kini, karena jumlah pembeli menurun drastis, sebagian besar kios tutup lebih awal. Sejak pukul 21.00 WIB, para pedagang sudah tutup lapak.
“Saya sebagai pedagang berharap ada upaya dari pemerintah untuk kembali meramaikan pusat oleh-oleh yang beberapa tahun lalu sempat menjadi primadona pemudik,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Sumarni (40), pedagang asal Kelurahan Ketapang. Ia menyebut, penjualan aneka oleh-oleh di kiosnya juga mengalami penurunan signifikan.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya, pada H-3 atau H+3 lebaran, masih ada sejumlah pemudik yang mampir. Namun tahun ini, nyaris tidak ada pemudik singgah.
“Meskipun kios saya buka 24 jam, pembeli tetap sepi karena adanya tol. Pemudik lebih memilih lewat sana karena lebih cepat. Meski begitu, masih ada satu-dua pelanggan tetap yang mampir saat mudik Lebaran,” curhatnya. (*)













