Probolinggo,– Menjelang Hari Raya Imlek, tanggal 17 Februari 2026, permintaan daging rajungan atau ‘blue swimmer crab’, mengalami peningkatan signifikan.
Salah satu produsen daging rajungan yang ketiban berkah saat momentum Imlek, berada di Dusun Me’doan, Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.
Setiap harinya, usaha rumahan milik Muhammad Ridwan, mampu memproduksi 4 hingga 5 kuintal daging rajungan segar.
Namun saat cuaca ekstrem seperti saat ini, meskipun permintaan meningkat hingga 100 persen, rajungan sebagai bahan baku justru sulit diperoleh dari nelayan.
“Untuk memperoleh bahan baku rajungan, kami membeli dari nelayan Probolinggo, Pasuruan, Banyuwangi hingga Madura. Namun karena cuaca buruk, rajungan dari nelayan sulit didapat,” kata Muhammad Ridwan, Senin (9/2/26).
Ridwan menjelaskan, sebelum dikirim, rajungan terlebih dahulu dibersihkan dan dipisah antara cangkang dan dagingnya. Proses diawali dengan merebus rajungan, lalu dikupas untuk diambil dagingnya.
Setelah dikupas dan terkumpul, daging rajungan kemudian dikirim ke pabrik untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara. Pangsa pasar Rajungan mayoritas Amerika Serikat, Kanada, hingga China.
Harga daging rajungan yang telah diproses dijual sekitar Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per kilogram. Sementara itu, harga bahan baku rajungan yang dibeli dari nelayan berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
“Selain permintaan yang meningkat menjelang Imlek, harga daging rajungan juga naik hingga 20 persen. Namun kendalanya adalah ketersediaan rajungan dari nelayan yang terbatas akibat cuaca buruk,” imbuh Ridwan.
Dengan jumlah produksi yang bisa sampai 5 kwintal, dalam sehari omset produksi rajungan menyentuh Rp100 juta lebih. “Kadang bisa sampai Rp500 juta,” Ridwan memungkasi. (*)












