Pasuruan,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan resmi terkait fenomena hujan es yang menggegerkan warga Pasuruan pada Sabtu (31/1/2026) sore.
Fenomena ini dipastikan akibat adanya aktivitas awan konvektif yang ekstrem di wilayah tersebut.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Tretes, Suwarto, menjelaskan bahwa hujan es tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang sangat tinggi.
Kondisi atmosfer yang labil serta kelembapan udara yang tinggi menjadi bahan bakar utama terbentuknya awan ini.
“Penyebab utamanya adalah awan Cumulonimbus. Awan ini memiliki suhu puncak yang sangat dingin, bahkan bisa mencapai -77,5°C. Hal ini memungkinkan tetesan air di dalam awan membeku menjadi kristal es,” terang Suwarto.
Lebih lanjut, Suwarto memaparkan bahwa arus udara naik dan turun (updraft dan downdraft) yang sangat kuat di dalam awan Cb membuat butiran es kecil terombang-ambing dan tumbuh menjadi lebih besar serta berat hingga jatuh ke permukaan bumi.
Ditanya soal prediksi apakah ada hujan es susulan, Suwarto menekankan bahwa fenomena hujan es susulan merupakan sesuatu yang sulit diprediksi secara presisi mengenai waktu dan titik lokasinya.
“Untuk susulan hujan es, itu tidak bisa diprediksikan secara pasti kapan dan di mana akan terjadi lagi. Namun, selama musim hujan dan masa pancaroba seperti sekarang, potensi hujan es itu tetap ada,” tambahnya.
Menurut Suwarto, setidaknya ada empat faktor utama yang memicu kejadian ini. Pertama, keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) dengan suhu puncak ekstrem dingin yang membekukan tetesan air menjadi kristal es.
Kondisi ini diperkuat oleh arus udara naik (updraft) yang sangat kuat di dalam awan, sehingga mendorong butiran es tumbuh lebih besar sebelum akhirnya jatuh ke bumi.
Selain itu, atmosfer yang labil akibat perbedaan suhu drastis antara permukaan dan atmosfer atas turut mendukung pembentukan awan konvektif secara cepat.
Faktor pemanasan sejak pagi hingga siang hari yang terik juga memicu penguapan tinggi yang menjadi bahan bakar utama bagi terbentuknya fenomena hujan es tersebut di tengah kondisi cuaca yang cenderung tidak stabil.
Imbauan BMKG
Pihak BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat cuaca terik di siang hari yang diikuti mendung gelap secara tiba-tiba.
“Hujan es biasanya disertai kilat, petir, dan angin kencang dengan durasi singkat sekitar 5-10 menit,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, hujan es sebelumnya melanda sejumlah wilayah di Kabupaten dan Kota Pasuruan, termasuk Desa Pulokerto di Kecamatan Kraton.
Fenomena yang berlangsung sekitar beberapa menit tersebut sempat memicu kepanikan warga karena butiran es jatuh bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang.
Meski demikian, peristiwa ini tidak sampai menyebabkan kerusakan bangunan maupun korban jiwa. (*)












