Jember,- Perumdam Tirta Pandalungan Jember melakukan pembenahan sistem operasional untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian manajemen adalah tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) yang masih berada di angka sekitar 20 persen.

Plt. Direktur Utama Perumdam Tirta Pandalungan Jember, Regar Jeane Dealen Nangka, mengatakan, pembenahan tersebut difokuskan pada perbaikan sistem, mekanisme, dan prosedur kerja agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Langkah ini menjadi bagian dari program jangka pendek yang disusun untuk tiga bulan ke depan.

Selain pembenahan internal, Perumdam juga mulai menerapkan digitalisasi untuk mendukung pengawasan operasional.

Menurut Regar, penggunaan teknologi dibutuhkan untuk memantau produksi dan distribusi air secara lebih akurat, termasuk mendeteksi kebocoran jaringan.

“Selama ini pengawasan belum sepenuhnya berbasis data. Dengan digitalisasi, kondisi lapangan bisa dipantau lebih cepat,” kata Regar, Rabu (21/1/26).

Ia menilai penurunan NRW tidak dapat dilakukan tanpa dukungan sistem yang memadai.

Oleh karena itu, manajemen menargetkan pembangunan sistem pemantauan berbasis dashboard agar data produksi air, distribusi, dan penjualan dapat dipantau setiap hari.

Di sisi usaha, penjualan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Hazora dilaporkan telah melampaui target tahun 2025.

Meski demikian, Perumdam menilai potensi pasar masih terbuka, khususnya di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kecamatan, dan kelurahan di Kabupaten Jember.

“Kami akan datang untuk bisa menjalankan kerja sama yang lebih baik dengan OPD-OPD dan kecamatan serta kelurahan di Kabupaten Jember,” sampainya.

Untuk tahun 2026, Perumdam Tirta Pandalungan menargetkan peningkatan nilai penjualan AMDK Hazora dari target Rp3 miliar menjadi Rp5 miliar. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.