Lumajang, – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih yang diperkirakan terjadi saat memasuki musim kemarau pada April 2026 mendatang.

Meski pada tahun sebelumnya kondisi krisis air terbilang aman, BPBD belum dapat memastikan kapan tepatnya krisis air akan kembali terjadi. Hal itu disebabkan kondisi cuaca yang masih fluktuatif serta belum adanya rilis resmi prakiraan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Tidak bisa dipastikan karena sampai saat ini BMKG belum merilis, biasanya setiap pekan sudah ada,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Yudi Cahyono, Rabu (21/1/2026).

Yudi menjelaskan, berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya, masa krisis air biasanya mulai muncul saat musim kemarau pada April dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus.

Mengacu pada kondisi tersebut, BPBD Lumajang akan menetapkan status tanggap darurat apabila krisis air benar-benar terjadi di puncak kemarau.Meski demikian, BPBD mencatat adanya penurunan peta sebaran wilayah rawan krisis air di Lumajang.

Tiga kecamatan yang sebelumnya terdampak kini mulai teratasi, seiring normalnya aliran Sungai Kali Asem serta tingginya curah hujan yang membantu memenuhi kebutuhan air warga dan pengairan sawah.

“Bukan karena sumber mata airnya, tapi karena resapan air yang kurang maksimal. Sekarang sudah terbantu dengan hujan dan aliran sungai kembali normal,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.