Pasuruan, – Musim hujan biasanya membawa risiko banjir bagi Kota Pasuruan. Selain kondisi kota yang dilalui tiga sungai besar, menurut Walikota Pasuruan, Adi Wibowo, kebiasaan sebagian warga membuang pampers ke sungai karena mitos anak bisa menjadi suleten juga memperparah genangan.

“Masih banyak masyarakat yang membuang pampers balita maupun lansia ke sungai atau gorong-gorong karena percaya anak bisa suleten. Padahal itu tidak ada hubungannya sama sekali. Justru membuat saluran tersumbat dan menimbulkan genangan,” ujar Mas Adi, sapaan akrab walikota.

Dalam dunia medis, suleten (impetigo) adalah penyakit kulit yang sangat menular disebabkan oleh bakteri.

Menurut Adi, Pemkot Pasuruan telah menjalankan kampanye sosial melalui program Resik-Resik. Kegiatan ini tidak hanya berupa senam atau hiburan, tetapi sarana menyampaikan pesan pentingnya kebersihan kepada masyarakat.

“Substansi Resik-Resik itu tentang kebersihan. Senamnya bukan sekadar gerak, tapi menyampaikan pesan agar masyarakat sadar menjaga lingkungan. Kita ini kota santri, an-nadhafatu minal iman harus dipraktikkan, bukan hanya diomongkan,” jelasnya.

Advertisement

Adi menambahkan, Kota Pasuruan memang rawan banjir karena dilalui tiga sungai besar. Bahkan, banjir bisa terjadi meski hujan tidak turun di wilayah kota sendiri, karena kiriman air dari daerah hulu.

“Seperti kemarin, kita tidak hujan pun tiba-tiba terjadi banjir. Mengatasi banjir tidak bisa dilakukan hanya oleh Kota Pasuruan, tapi harus bersama daerah sekitar, termasuk Kabupaten Pasuruan dan Malang,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti kondisi sungai yang kian dangkal akibat sedimentasi. Pemerintah kota terus mendorong normalisasi sungai, termasuk Sungai Petung yang menjadi kewenangan Provinsi Jawa Timur.

“Sungai petung saat ini sedang dinormalisasi. Sedimentasi tinggi membuat aliran air tersumbat, sehingga normalisasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko banjir,” jelas Adi. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.