Probolinggo,- Video perkelahian di kawasan tambang Sungai Pancarglagas, Kecamatan Pakuniran, Probolinggo, beredar luas dan viral di media sosial.

Duel itu terjadi pada Jumat (10/4/2025), yang melibatkan Kepala Desa (Kades) Patemon Kulon, Kecamatan Pakuniran, Muhammad alias Mad dengan seorang pegiat tambang.

Kepala Desa Patemon Kulon, Muhammad mengaku hanya ‘merangkul’ namun ia justru digigit. Sementara Joyo, pihak tambang yang terlibat, mengaku belum mengetahui duduk perkara sebenarnya.

Muhammad menjelaskan, insiden itu tidak terjadi begitu saja. Pangkal masalahnya adalah aktivitas tambang di wilayah Sungai Pancarglagas yang berjalan tanpa sepengetahuan pihak desa.

“Nggak ada pamit. Pertama memang itu,” ujar Muhammmad saat dikonfirmasi, Sabtu (11/4/26).

Salah satu warganya, menurut Kades, mengadukan adanya penyerobotan lahan dan pengrusakan di lokasi tambang. Tidak tinggal diam, ia lalu mengirim surat ke pihak perusahaan (PT) yang beroperasi di lokasi tambang.

“Saya berkirim surat ke pihak, gak ada yang datang. Saya mintanya yang dari pihak PT-nya,” katanya.

Situasi makin pelik ketika salah satu warga yang lahannya diklaim diserobot datang mengadu sambil menangis. Namun hingga memasuki bulan puasa, tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan.

Muhammad menegaskan, pihak desa sama sekali tidak pernah menerima pemberitahuan resmi terkait izin tambang yang beroperasi di wilayahnya, termasuk salinan dokumen izin maupun hasil pengukuran lahan.

“Entah itu tanda tangannya siapa, saya nggak tahu. Dari pihak desa ya nggak tahu. Pengukuran nggak tahu juga,” ungkapnya dengan nada geram.

Ia mempertanyakan posisi desa yang seolah tidak dianggap dalam proses perizinan tambang, yang notabene berada di wilayahnya.

“Jadi desa di sini ngapain? Ada kepala desa disini, ngapain kalau cuma tidak punya peran? Sebagai pimpinan desa, ketika ada laporan, ngadu ke siapa? Tetap ke kepala desa. Bukan pihak PT-nya, bukan pihak penambang,” tegasnya.

Puncak ketegangan terjadi ketika Muhammad turun langsung ke lokasi tambang dan mendapati ekskavator tengah menggaruk jalan yang biasa digunakan warga sebagai akses penambang manual.

“Kenapa saya langsung ke tambang, tiba-tiba digeruk? Ekskavatornya itu menggeruk jalannya warga yang kerja manual. Jadi saya sempat emosi, wajar seperti saya sebagai pimpinan yang ada di wilayah sini,” akunya.

Bantah Melakukan Pemukulan

Sebelum kejadian memanas, Muhammad sempat meminta situasi dikondusifkan, bahkan ia berencana melapor ke Polsek Pakuniran. Namun eskalasi terjadi lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Ia membantah keras tudingan bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap Joyo. Ia mengaku hanya berusaha ngelle’ (tangan kiri melingkar ke bagian leher, red) namun justru mendapat gigitan di bagian jari.

“Saya cuma merangkul. Ketika merangkul, ada videonya. Ketika merangkul, saya digigit mungkin dia pingin cium pipi saya,” katanya, separuh berkelakar namun dengan nada serius.

Muhammad memperlihatkan bekas luka di bagian tangan dan sekitar wajahnya. Ia mengaku khawatir luka gigitan itu berpotensi menyebabkan tetanus.

“Takutnya ini tetanus. Soalnya ini bekas-bekas belum dibersihkan. Ya, mudah-mudahan tidak tetanus ke saya,” ujarnya.

Tanggapan Penambang

Saat dikonfirmasi terpisah mengenai insiden tersebut, Joyo tidak banyak memberikan keterangan. Ia hanya menyampaikan bahwa kejadian berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB.

“Tadi pagi jam 9. Belum tahu penyebabnya, dulur, saya sekarang masih pemeriksaan,” ujarnya singkat. (*)

Editor: Mohammad S

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.