Probolinggo,– Umat Hindu Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar perayaan Hari Raya Pagerwesi, Rabu (8/4/26) siang.
Hari Raya Pagerwesi merupakan salah satu hari suci dalam ajaran agama Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali.
Secara filosofis, Pagerwesi memiliki makna mendalam. Kata ‘pager’ berarti pelindung, sementara ‘wesi’ berarti kuat atau kokoh.
Dengan demikian, Pagerwesi dimaknai sebagai simbol perlindungan spiritual yang kuat bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
Momentum ini menjadi sangat istimewa karena datang tidak lama setelah Hari Raya Saraswati, yang dikenal sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan.
Dalam ajaran Hindu, Saraswati melambangkan anugerah ilmu, sedangkan Pagerwesi menjadi penguat sekaligus pelindung ilmu tersebut agar tetap berada dalam koridor kebaikan dan tidak disalahgunakan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Sapikerep, Rujiyanto mengatakan bahwa perayaan Pagerwesi memiliki esensi penting dalam kehidupan spiritual umat Hindu.
“Pagerwesi sendiri memiliki makna memperkokoh iman atau sradha dan ilmu pengetahuan atau widya, serta melindungi diri dari pengaruh negatif, pikiran buruk, dan hawa nafsu. Ini juga menjadi momen menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan spiritualisasi,” beber Rujiyanto.
Ia.menambahkan bahwa hubungan antara Saraswati dan Pagerwesi tidak bisa dipisahkan. Saraswati menjadi simbol diperolehnya ilmu, sedangkan Pagerwesi menjadi bentuk penguatan terhadap ilmu tersebut dalam diri manusia.
“Pagerwesi ini digelar beberapa hari setelah hari raya Saraswati. Jika Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan dan proses memperoleh ilmu, maka Pagerwesi adalah upaya melindungi dan memperkuat ilmu itu dalam diri,” terangnya.
Tokoh agama Hindu Desa Sapikerep lainnya, Alimikdin, menyebut bahwa perayaan hari raya Pagerwesi bermakna permohonan kekuatan lahir dan batin kepada Ida Hyang Widhi Wasa sebagai sumber segala ilmu.
Selain itu, Pagerwesi juga menjadi momentum untuk memperkuat benteng diri agar tetap berada di jalan dharma atau kebenaran.
“Perayaan ini biasanya dilakukan dengan sembahyang di rumah atau di pura, dengan mempersembahkan banten atau sesajen. Diharapkan umat Hindu Suku Tengger dapat melakukan introspeksi diri dan memperdalam ajaran agama,” imbuhnya.
“Perayaan Hari Raya Pagerwesi juga merupakan kesinambungan dari Saraswati, untuk menguatkan ilmu agar tidak hilang ataupun disalahgunakan,” Alimikdin memungkasi. (*)













