Lumajang, – Kenaikan harga kedelai impor menjadi Rp10.500 per kilogram mulai menekan pelaku usaha tempe di Kabupaten Lumajang. Lonjakan harga bahan baku ini terjadi dalam sebulan terakhir dan berdampak langsung pada industri rumahan.
Salah satu produsen tempe di Kampung Tempe Bagusari, Kelurahan Jogotrunan, Syaiful Amin mengatakan, kenaikan harga kedelai mencapai Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram dari sebelumnya, Rp9.000-Rp9.500.
“Harga kedelai impor saat ini Rp10.500 per kilo atau naik sekitar Rp1.000. Dampaknya, penghasilan berkurang karena biaya produksi bertambah,” kata Syaiful, Rabu (7/4/2026).
Menurut dia, kenaikan harga kedelai membuat produsen harus mencari cara agar tetap bertahan. “Salah satunya dengan melakukan efisiensi dalam proses produksi tanpa menurunkan kualitas tempe,” ungkapnya.
Syaiful mengaku, menerapkan metode giling kering pada kedelai untuk mengurangi penyusutan saat proses perendaman hingga fermentasi. Cara tersebut dapat menekan biaya meski tidak sepenuhnya menutup dampak kenaikan harga bahan baku.
Meski demikian, para produsen menghadapi dilema. Di satu sisi mereka harus menjaga kualitas produk agar tetap diminati konsumen, namun di sisi lain biaya produksi terus meningkat.
“Kami tidak berani menurunkan kualitas. Tapi kalau biaya terus naik, keuntungan makin tipis,” ujarnya.
Kenaikan harga kedelai impor ini diduga oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, sehingga memengaruhi rantai pasok global.
Para pelaku usaha berharap harga kedelai dapat kembali stabil dalam waktu dekat agar usaha mereka tetap berjalan tanpa harus menanggung kerugian lebih besar.
“Kami berharap harga bisa kembali normal, supaya usaha tetap bertahan,” pungkasnya. (*)













