Probolinggo,— Luka di kepala, leher, dan lutut kiri masih membekas. Foto-foto kondisi SA (16) saat tak sadarkan diri di rumah sakit menjadi saksi bisu kerasnya dugaan pengeroyokan yang dialami pelajar Kelas X Jurusan TKR SMKN 2 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo itu.
Namun dua pekan pasca kejadian, keadilan setimpal atas kriminalisasi yang menimpa remaja asal Desa Alassumur Kulon, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, bak api yang jauh dari panggangnya.
Alih-alih penetapan tersangka, para terduga pelaku pengeroyokan yang nama-namanya sempat beresar pun belum terjamah Aparat Penegak Hukum (APH).
Ditemui di kediamannya, Selasa (17/3/2026), ibu korban, Siti Maryam, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan nasib yang menimpa anaknya. “Saya meminta keadilan,” ujarnya lirih.
Ungkapan senada disampaikan ayah korban, Muhammad Samud. Ia mendesak agar aparat penegak hukum segera menangkap para pelaku dan memberikan efek jera.
“Biar ada efek jera sama pelaku, segera ditangkap,” pinta Samud
Dengan nada emosional, Samud memperlihatkan sejumlah foto kondisi anaknya saat menjalani perawatan di RSUD Waluyo Jati.
Dalam foto tersebut, tampak luka memar di bagian dahi, leher belakang, serta lutut kiri yang hingga kini masih menyisakan bekas.
“Ini waktu dalam keadaan tidak sadar di rumah sakit, saya menunggu dua jam. Saya sendiri yang mengantar bersama teman-temannya, pada bagian ubun-ubunnya juga luka” ungkapnya.
Ia berharap, aparat kepolisian segera memberikan kepastian hukum atas kasus tersebut. “Harapannya anak saya mendapat keadilan, dan pelaku mendapat efek jera,” imbuh dia.
Menurut Samud, salah satu terduga pelaku berasal dari Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan. “Infonya orang Kalibuntu. Dari Polres (Probolinggo, red) belum ada informasi sampai sekarang,” tandasnya.
Kronologi Kejadian
Informasi yang dihimpun, penganiyaan bermula ketika korban bersama kerabatnya, DVdan RZ, berada di kawasan alun-alun Kraksaan untuk menonton balapan di depan SMPN 2 Kraksaan, Senin (22/3/26).
Suasana yang awalnya ramai mendadak berubah mencekam. Sekitar pukul 23.15 WIB, korban tiba-tiba ditarik dari belakang oleh orang tak dikenal dipukul dan dikeroyok oleh sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah sekitar 10 orang.
RZ sempat berupaya memberikan pertolongan. Namun para terduga pelaku langsung melarikan diri usai melakukan aksinya. Sementara korban yang terluka, dibiarkan begitu saja.
SA menyebut, insiden bermula dari ajakan ‘perang sarung’ yang ditujukan kepada temannya. Ia mengaku sempat melarang, namun situasi berubah kacau setelah terdengar ledakan petasan yang memicu kepanikan.
“Terus saya dikeroyok. Saya lari ke arah barat. Untungnya ada lek RZ yang menghalangi,” ujarnya.
Korban menyebut salah satu teman sekolahnya, yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut. “Habil, orang Kalibuntu. Ikut mengeroyok, juga memukul,” klaim SA.
Klarifikasi Kepolisian
Anggota Polres Probolinggo yang menerima laporan dari korban, Bripda Prima Putra Ariefiansyah menjamin proses hukum tetap berlanjut.
Ia menyampaikan, bahwa laporan korban telah diterima sejak pekan lalu dan saat ini masih dalam proses pengajuan administrasi penyelidikan.
“Saya sendiri yang menangani. Laporan sudah saya terima minggu kemarin, dan saat ini masih saya ajukan administrasi penyelidikannya,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa Laporan Polisi (LP) telah dibuat dan rencana penyelidikan telah diajukan, tinggal menunggu proses administrasi internal.
“Kami.berencana memanggil korban dan para saksi untuk dimintai keterangan lebih lanjut dalam waktu dekat,” janji Bripda Prima. (*)












