Probolinggo,- Jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Kotaanyar dengan Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, ambruk, Minggu (22/2/26) sekitar pukul 00.30 WIB.
Informasi yang dihimpun, panjang jalan yang ambruk diperkirakan mencapai 10 meter dengan lebar kurang lebih 6 meter.
Akibatnya, ruas penghubung vital antar dua kecamatan itu tidak dapat dilalui kendaraan, terutama roda empat.
Camat Pakuniran, Hasan Zainuri, yang memantau langsung lokasi kejadian mengatakan, kerusakan dipicu oleh derasnya aliran sungai yang berada tepat di bawah badan jalan tersebut setelah hujan yang terjadi berjam-jam.
Aliran air yang terus menerus akhirnya menggerus struktur tanah penyangga sehingga menjadi penyebab utama runtuhnya jalan.
“Di bawah jalan ini memang terdapat aliran sungai. Jadi ada sungai di bawah sungai,” ujar Zainuri saat berada di lokasi.
Menurutnya, kejadian tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Namun dampaknya cukup besar terhadap mobilitas warga, mengingat jalur merupakan akses utama aktivitas masyarakat, termasuk distribusi barang dan hasil pertanian.
Akibat ambruknya ruas jalan, kendaraan roda empat maupun kendaraan dengan muatan berat dipastikan tidak dapat melintas.
Sementara itu, pengendara roda dua masih dapat menggunakan jalur alternatif melalui jalan Desa Sumbercenteng dengan tetap berhati-hati.
“Untuk roda dua masih bisa lewat jalur alternatif, tetapi roda empat harus mencari jalur lain,” ucapnya.
Salah satu warga setempat, Karim menyebut, dirinya sempat mendengar suara gemuruh cukup keras saat peristiwa terjadi. Suara tersebut bahkan disebut mirip getaran gempa.
“Tadi malam terdengar suara gemuruh nyaring sekali, seperti bunyi gempa. Ternyata setelah dicek, jalannya sudah ambruk,” tutur Karim.
Ia menambahjan, ruas jalan tersebut bukan kali pertama mengalami kerusakan. Pada tahun 2015 lalu, pemerintah sempat melakukan perbaikan karena kondisi jalan yang mulai terdampak gerusan air. Namun, perbaikan tidak bertahan lama.
“Dulu sudah pernah diperbaiki, sempat dipasang bronjong juga, tapi rusak lagi. Justru saluran air lamanya yang dibangun sejak zaman Belanda masih kuat sampai sekarang, yang rusak itu hasil perbaikan yang baru,” beber dia.
Karim dan warga sekitar lainnya berharap, pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan darurat mengingat pentingnya jalur tersebut bagi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Selain perbaikan fisik jalan, penanganan struktur saluran air atau drainase di bawah jalan dinilai menjadi hal krusial agar kejadian serupa tidak terulang. “Semoga segera mendapatkan perbaikan,” harap Karim. (*)












