Jember,- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menetapkan status tanggap darurat bencana, menyusul peringatan potensi cuaca ekstrem yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi guna meminimalisir risiko bencana hidrometeorologi yang diperkirakan masih mengancam wilayah Jember hingga akhir Februari.
Bupati Jember, Muhammad Fawait, memimpin langsung rapat koordinasi lintas sektor yang melibatkan jajaran OPD, TNI, Polri, hingga relawan kebencanaan.
Rapat tersebut membahas kesiapan personel, peralatan, serta mekanisme respons cepat di lapangan.
Berdasarkan data BMKG, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di sejumlah daerah Jawa Timur, termasuk Jember, pada rentang 10 hingga 20 Februari 2026. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah meningkatkan status kewaspadaan.
“Kami meminta seluruh perangkat daerah hingga tingkat desa dan kelurahan untuk siaga penuh. Koordinasi harus berjalan cepat agar setiap perkembangan di lapangan bisa segera ditindaklanjuti,” kata Fawait dalam keterangannya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar tidak panik. Warga diminta tetap waspada, memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, serta mengikuti informasi resmi terkait perkembangan cuaca.
“Kami bersama TNI, Polri, dan relawan akan terus bersiaga. Pemerintah daerah memastikan penanganan berjalan maksimal demi keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan, status tanggap darurat ditetapkan melalui surat keputusan bupati dan berlaku mulai 12 hingga 26 Februari 2026.
“Dengan status ini, seluruh unsur akan bergerak bersama. Fokus utama kami adalah penanganan dampak banjir bandang, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak,” jelas Edy.
Hal senada disampaikan Penjabat Sekda Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman. Ia mengungkapkan, intensitas hujan yang terjadi saat ini tergolong sangat tinggi dan tidak biasa.
“Berdasarkan data BMKG, curah hujan yang terjadi merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Situasi ini perlu disikapi serius, namun masyarakat diminta tetap tenang,” katanya.
Helmi menegaskan, pemerintah daerah akan terus hadir mendampingi masyarakat selama masa tanggap darurat berlangsung.
“Kami bersama-sama dengan seluruh elemen akan terus bersiaga dan melewati masa tanggap darurat bencana ini secara gotong-royong,” pungkasnya. (*)












