Pasuruan, – Ribuan ikan milik petani keramba di Danau Ranu, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan ditemukan mati mengambang akibat fenomena alam tahunan yang dikenal warga setempat sebagai “Sapon”.
Peristiwa ini berdampak pada puluhan petak keramba dan menyebabkan kerugian materiil hingga jutaan rupiah bagi para pembudidaya ikan.
Ketua Kelompok Tani Mina Makmur Desa Ranu Klindungan, Nur Hasbullah menyatakan bahwa fenomena ini merupakan rutin yang hampir selalu terjadi setiap tahun di kawasan tersebut.
“Sapon, biasa sapon tahunan. Tiap tahun itu pasti ada sapon,” ujar Nur Hasbullah saat memberikan keterangan di lokasi, Rabu (14/1/2026).
Nur menjelaskan lebih lanjut mengenai penyebab teknis dari fenomena yang merugikan tersebut. Menurutnya, faktor cuaca ekstrem menjadi pemicu utama.
“Gejalanya itu angin. Jadi angin ini di Danau Ranu kan mengandung belerang. Kalau kena angin, belerangnya naik. Ini yang mengakibatkan ikan banyak yang mati. Ikan itu tenggelam dulu baru ngambang, mati,” jelasnya.
Meski dampak di Desa Ranu Klindungan tergolong cukup besar, Nur Hasbullah menyebutkan bahwa kondisi lebih parah kemungkinan terjadi di desa-desa tetangga yang memiliki kepadatan keramba lebih tinggi.
Sejumlah wilayah seperti Gratitunon dan Sumber Dawesari juga dilaporkan terdampak oleh fenomena yang sama.
“Kalau di sini enggak terlalu banyak yang terdampak, masalahnya sedikit karambanya. Kalau di desa lain banyak, termasuk di Gratitunon, Sumber Dawesari, itu ada petani karamba juga,”
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Pasuruan, Wahid Setyantoro memberikan penjelasan teknis terkait fenomena ini. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai upwelling.
“Terjadi pengadukan dasar air danau, sehingga bahan organik seperti amonia naik semua dan menyebabkan ikan keracunan. Selain itu, kadar oksigen juga berkurang drastis,” papar Wahid.
Wahid menambahkan, bahwa fenomena ini sulit diprediksi secara akurat karena sangat bergantung pada pergerakan arah angin. Pola sebarannya pun kerap berubah-ubah setiap tahunnya.
“Fenomena ini kita sudah tidak bisa membaca lagi tepatnya kapan, karena tergantung arah angin. Tahun lalu mungkin hanya terjadi di Dawesari, tapi tahun ini laporan dari petani menunjukkan wilayah Dawesari dan Ranu Klindungan yang terdampak,” pungkasnya. (*)












