Pasuruan, – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pasuruan menjelaskan penyebab lonjakan harga cabai rawit merah yang menembus Rp120 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional jelang Ramadan. Kenaikan harga dipicu menurunnya pasokan akibat faktor cuaca di tingkat produsen.

Kepala bidang Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono, menyebut musim penghujan yang disertai angin kencang menyebabkan banyak petani cabai mengalami gagal panen, sehingga berdampak pada menurunnya suplai ke pasar.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, di tingkat produsen, karena musim penghujan dan juga angin yang cukup tinggi, itu menyebabkan beberapa produsen cabai mengalami gagal panen. Sehingga harga cabai menjadi lebih mahal,” ujar Mulyono, Rabu (18/2/2026).

Untuk menekan laju kenaikan harga dan menjaga daya beli masyarakat, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah pengendalian, di antaranya melalui operasi pasar dan pasar murah.

“Beberapa upaya yang sudah kami lakukan untuk mengendalikan harga agar masyarakat tidak mendapatkan harga yang tinggi, di antaranya operasi pasar bekerja sama dengan Bulog untuk minyak dan beras, serta pasar murah untuk komoditas lainnya termasuk cabai,” jelasnya.

Ia merinci, pasar murah telah digelar pada 12 Februari 2026 menjelang Ramadan, kemudian dilanjutkan di Kelurahan Pohjentrek pada 17 Februari 2026.

“Insyaallah, pada 20 Februari besok, kami juga akan kembali melaksanakan pasar murah bekerja sama dengan Disperindag Provinsi,” tambahnya.

Mulyono berharap, langkah tersebut dapat membantu masyarakat, terutama kelompok dengan keterbatasan daya beli, agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok selama Ramadan.

“Upaya-upaya ini kami lakukan agar masyarakat, terutama yang membutuhkan dan memiliki keterbatasan daya beli, bisa memanfaatkan operasi pasar dan pasar murah yang dilakukan pemerintah menjelang dan memasuki Ramadan,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.