Probolinggo,– Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia, Fadli Zon, meresmikan revitalisasi Museum Tengger yang berada di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Senin (26/1/2026) pagi.

Peresmian museum di lereng Bromo ini turut dihadiri Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, Wakil Bupati Probolinggo Fahmi Abdul Haq Zaini, Forkopimda Kabupaten Probolinggo, tokoh adat serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon mengatakan, ia pertama kali mengunjungi Museum Tengger pada Juni 2025 lalu, bertepatan dengan pelaksanaan Yadnya Kasada. Kunjungan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan revitalisasi museum.

“Kami mengapresiasi kerjasama dalam revitalisasi Museum Tengger oleh semua pihak, mulai Pemerintah Kabupaten Probolinggo hingga BPK Wilayah XI Jawa Timur. Revitalisasi ini penting sebagai wujud pelestarian warisan budaya dan adat istiadat masyarakat Suku Tengger,” kata Fadli.

Peresmian revitalisasi Museum Tengger diawali dengan ritual doa yang dipimpin oleh Dukun Pandita. Selanjutnya, dilakukan pemotongan pita oleh Fadli Zon, didampingi Wakil Bupati Probolinggo Fahmi Abdul Haq Zaini (AHZ) serta sejumlah undangan.

Usai peresmian, Fadli Zon meninjau koleksi museum dengan didampingi pemandu. Koleksi Museum Tengger antara lain pakaian adat Suku Tengger, benda-benda peninggalan sejarah dan prasasti, naskah kidung, serta foto-foto masyarakat Tengger pada masa lampau.

“Harapannya, museum ini dapat menjadi pusat edukasi dan kebudayaan Suku Tengger yang dikelola oleh masyarakat sekitar dengan dukungan pemerintah. Ke depan, koleksi artefak juga akan terus ditambah,” imbuh Fadli Zon.

Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto, menyampaikan terima kasih kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon atas perhatian yang diberikan kepada masyarakat Tengger melalui revitalisasi Museum Tengger sebagai sarana budaya dan edukasi bagi wisatawan.

“Museum Tengger ini.diharapkan dapat menjadi bagian dari paket wisata, sehingga wisatawan tidak hanya berkunjung ke Gunung Bromo, tetapi juga dapat belajar dan mengenal budaya serta asal-usul masyarakat Tengger,” beber Ugas. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.