Probolinggo – Rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Probolinggo pada 11, 16, dan 17 Januari 2026 mengakibatkan kerusakan infrastruktur vital serta berdampak pada ribuan warga.
Banjir dan cuaca ekstrem yang dipicu intensitas hujan tinggi dan angin kencang menyebabkan jembatan rusak hingga putus, plengsengan ambrol, serta ratusan rumah warga terendam.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, tercatat beberapa jembatan mengalami kerusakan dan putus.
Jembatan rusak terjadi di ruas penghubung Desa Ambulu – Desa Sumberbendo Kecamatan Sumberasih, Desa Satreyan Kecamatan Maron – Desa Sumbersecang Kecamatan Gading, serta di Desa Betektaman Kecamatan Gading.
Sementara itu, untuk lima jembatan yang putus, masing-masing berada di Dusun Beji Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih, dan jembatan penghubung jalur Desa Jangur–Desa Sumberbendo Kecamatan Sumberasih.
Lalu jembatan penghubung Desa Brani Wetan kecamatan Maron – Desa Sumbersecang Kecamatan Gading, jembatan di Dusun Mendek Kulon Desa Sumberkramat Kecamatan Tongas, serta jembatan di Desa Kalianan, Kecamatan Krucil.
Selain jembatan, bencana juga mengakibatkan kerusakan plengsengan atau dinding penahan tanah. Sedikitnya, 8 unit plengsengan yang rusak, yang berpotensi membahayakan akses jalan dan permukiman warga apabila tidak segera dilakukan penanganan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif mengatakan, dampak banjir paling besar dirasakan oleh warga di sejumlah kecamatan, khususnya wilayah yang berada di daerah aliran sungai dan dataran rendah.
“Total rumah terdampak akibat bencana banjir dan cuaca ekstrem mencapai 1.379 unit yang tersebar di beberapa kecamatan. Saat ini kami masih terus melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan tidak ada wilayah terdampak yang terlewat,” kata Oemar, Senin (19/1/26).
Di Kecamatan Krejengan, banjir merendam enam desa dengan total 446 kepala keluarga (KK) terdampak. Rinciannya, Desa Opo-opo sebanyak 95 KK, dan Desa Kamalkuning 76 KK.
Selanjutnya, Desa Jatiurip 18 KK, Desa Rawan 80 KK, Desa Tanjungsari 27 KK, serta Desa Sumberkatimoho menjadi wilayah dengan dampak terbesar yakni 150 KK.
Sementara itu, di Kecamatan Sumberasih, banjir berdampak pada 4 desa dengan 224 KK. Desa Lemahkembar 89 KK terdampak, disusul Desa Banjarsari 72 KK, Desa Jangur 34 KK, dan Desa Sumberbendo sebanyak 29 KK.
Kondisi cukup parah juga terjadi di Kecamatan Tongas. Sebanyak 590 KK terdampak banjir di wilayah ini, dengan Desa Tambakrejo menjadi desa terdampak terbanyak, mencapai 320 KK.
Selain itu, Desa Bayeman 200 KK, Desa Sumendi 40 KK, dan Desa Dungun 30 KK juga terdampak genangan air.
Di Kecamatan Maron, banjir merendam Desa Satreyan dengan total 104 KK terdampak. Sedangkan di Kecamatan Leces, banjir terjadi di Desa Leces dan berdampak pada 15 KK.
Tak hanya banjir, cuaca ekstrem berupa angin kencang menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum. Salah satunya adalah fasilitas pendidikan di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto.
Oemar mengklaim, BPBD Kabupaten Probolinggo telah melakukan langkah-langkah tanggap darurat, mulai dari asesmen lapangan, hingga koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat curah hujan masih cukup tinggi. Jika terjadi kondisi darurat, segera laporkan ke perangkat desa atau BPBD agar bisa segera ditangani,” sampainya. (*)












