Pasuruan, – Pemerintah Kabupaten Pasuruan mulai mengantisipasi potensi krisis air bersih menjelang musim kemarau 2026. Sedikitnya 13 desa telah dipetakan sebagai wilayah rawan kekeringan.
Langkah ini dilakukan menyusul prediksi munculnya fenomena El Nino yang berpotensi memicu berkurangnya ketersediaan air di sejumlah daerah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi mengungkapkan, pemetaan menjadi upaya awal untuk menentukan langkah penanganan.
“Sejauh ini ada 13 desa yang kami petakan rawan kekeringan. Kondisinya dipicu menyusutnya sumber air saat kemarau,” kata Sugeng, Selasa (7/4/2026).
Wilayah paling terdampak diperkirakan berada di Kecamatan Lumbang. Di kawasan ini, ada lima desa yang masuk kategori rawan, masing-masing Pancur, Banjarimbo, Karangjati, Watulumbung, dan Bulukandang.
Selain Lumbang, Kecamatan Pasrepan juga masuk dalam daftar. Desa Klakah, Ngantungan, Pasrepan, Galih, Sibon, hingga Petung disebut berpotensi mengalami kondisi serupa.
Sementara di Kecamatan Winongan, Desa Kedungrejo menjadi satu-satunya wilayah yang turut masuk dalam pemetaan daerah rawan kekeringan.
Sugeng menjelaskan, kekeringan umumnya terjadi akibat debit sumber air yang terus menurun, bahkan tak jarang sumur warga ikut mengering saat musim kemarau berlangsung.
“Kalau kemarau tiba, banyak sumber air yang mengecil bahkan berhenti. Dampaknya langsung dirasakan warga karena kesulitan air bersih,” jelasnya.
Data BPBD mencatat, lebih dari 17 ribu jiwa atau sekitar 6 ribu kepala keluarga (KK) di 13 desa tersebut berpotensi terdampak.
Untuk mengantisipasi kondisi itu, BPBD telah menyiapkan langkah penanganan, salah satunya melalui distribusi air bersih secara berkala ke wilayah terdampak.
“Kami siapkan dropping air bersih sebagai langkah cepat. Ini penting karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya. (*)













