Pasuruan, – Minimnya apresiasi dan fasilitas pasca pemangkasan bonus PORPROV IX Jatim 2025 membuat atlet berprestasi Kota Pasuruan mempertimbangkan hengkang ke daerah lain. Kondisi ini menjadi alarm keras bagi masa depan pembinaan olahraga daerah.

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh Nur Alam Al-Ghozi, atlet bela diri MMA Kota Pasuruan. Ia menilai timbal balik yang diberikan pemerintah kota sangat tidak sebanding dengan perjuangan atlet di gelanggang provinsi. Bahkan, untuk urusan seragam kontingen saja, atlet Kota Pasuruan merasa kurang mendapat perhatian dibanding daerah lain.

“Kalau perhatian sih kurang menurut saya, Pak. Contoh untuk baju kontingen, kita cuma dikasih jaket, sedangkan kontingen lain ada kaos dan celana. Apalagi kita bela diri full-contact, butuh vitamin dan makanan bergizi, itu semua pakai dana pribadi,” keluh Nur Alam saat ditemui di sasana latihan, Kamis (26/2/2026).

Kondisi ini memicu munculnya isu eksodus atau perpindahan atlet ke daerah lain. Nur Alam mengakui bahwa banyak atlet potensial yang mulai tergoda dengan tawaran dari kabupaten atau kota tetangga yang dinilai lebih menghargai keringat atlet.

“Sebenarnya banyak ditawarin sama kontingen lain, sama kota dan kabupaten lain yang lebih peduli dan lebih menghargai kita sebagai atlet,” tambahnya.

Sementara itu, Wahyu Kurniawan selaku asisten pelatih dari sasana BOSS yang membawahi cabor MMA, tinju, dan wushu menilai, pemerintah daerah menutup mata terhadap konsistensi prestasi yang mereka torehkan. Padahal, cabor bela diri selalu menjadi penyumbang medali terbanyak bagi Kota Pasuruan dalam empat kali ajang Porprov terakhir.

Wahyu merinci penurunan drastis nilai bonus yang baru diketahui saat undangan pemberian reward tersebut. Penurunan tersebut ditaksir mencapai angka 70 persen jika dibandingkan dengan tahun 2023.

“Tahun 2023 bonus emas Rp30 juta, perak Rp20 juta, dan perunggu Rp10 juta. Tahun ini turun jauh, emas jadi Rp10 juta, perak Rp7,5 juta, dan perunggu Rp5 juta,” ungkap Wahyu.

Ia juga menyoroti minimnya dukungan sarana dan prasarana yang selama ini menjadi kendala klasik para atlet di lapangan. Wahyu menilai, tanpa dukungan fasilitas yang memadai dan support anggaran yang jelas, masa depan olahraga di Kota Pasuruan berada di ujung tanduk.

“Sangat kurang perhatiannya, terutama di fasilitas. Kami merasa kurang diperhatikan dan kurang di-support oleh pemerintah setempat, padahal kami selalu menyumbang medali terbanyak,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.