Lumajang, – Insiden banjir lahar hujan Gunung Semeru kembali berdampak pada dunia pendidikan di Lumajang. Seorang siswi SDN 3 Jugosari bernama Vita terpaksa kembali absen sekolah pada Selasa (24/2/2026) setelah mengalami trauma akibat terseret arus Sungai Regoyo sehari sebelumnya.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (23/2/2026) pagi saat Vita hendak berangkat ke sekolah. Ia dibonceng ayahnya menggunakan sepeda motor dan harus menyeberangi Sungai Regoyo.
Namun, derasnya arus lahar hujan membuat mereka terseret hingga lebih dari lima meter. Vita mengalami luka di bagian lutut dan punggung, sementara pakaian serta buku-buku sekolahnya basah kuyup.
Akibat kejadian tersebut, Vita mengurungkan niatnya untuk masuk sekolah pada hari itu. Keesokan harinya, ia juga belum kembali belajar karena masih diliputi rasa takut.
Kepala SDN 3 Jugosari, Yulianti mengatakan, kondisi psikologis anak menjadi salah satu alasan ketidakhadiran Vita. Selain itu, arus Sungai Regoyo pada Selasa pagi terpantau cukup deras dan membahayakan untuk diseberangi siswa.
“Anaknya tidak masuk hari ini, mungkin karena sungainya besar dan mungkin karena trauma juga,” katanya.
Dampak insiden ini tidak hanya dirasakan Vita. Sebagian besar siswa asal Dusun Sumberlangsep juga tidak masuk sekolah karena khawatir menyeberangi sungai.
Padahal, terdapat 37 siswa dari dusun tersebut yang setiap hari harus melewati Sungai Regoyo untuk belajar di sekolah. Pagi tadi, hanya sekitar 10 siswa asal Sumberlangsep yang datang ke sekolah.
“Ini yang masuk hanya sebagian kecil, mungkin karena arusnya juga besar pagi ini,” ungkapnya.
Sejak Jembatan Limpas terputus akibat banjir lahar pada Desember 2025, sungai menjadi satu-satunya akses warga untuk keluar masuk dusun. (*)












