Lumajang, – Bupati Lumajang, Indah Amperawati menilai, masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Semeru sudah memiliki kepekaan dan kesadaran tinggi terhadap potensi bencana.
Hal itu terlihat dari respons warga saat Gunung Semeru kembali meluncurkan awan panas sejauh lima kilometer pada Jumat (9/1/2026).
Bupati mengaku, tidak terlalu khawatir dengan peristiwa tersebut karena jarak luncuran awan panas masih berada di radius aman.
Selain itu, pengalaman menghadapi erupsi sebelumnya membuat warga lereng Semeru semakin siap dan sigap.
“Masyarakat di sana sudah tahu harus berbuat apa karena feeling-nya sudah peka tentang kebencanaan,” katanya, Minggu (11/1/2026).
Bupati mencontohkan, erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025 lalu, ketika awan panas meluncur hingga 14 kilometer dari puncak kawah. Meski skalanya lebih besar, tidak ada korban jiwa karena warga telah memahami langkah-langkah penyelamatan diri.
Menurutnya, kesiapsiagaan warga merupakan hasil dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan Gunung Semeru. “Ditambah edukasi kebencanaan yang terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan BPBD,” ungkapnya.
Meski demikian, bupati tetap berharap kondisi cuaca pasca-erupsi tidak memburuk. Ia mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi berpotensi memicu banjir lahar hujan di kawasan lereng Semeru.
“Semoga hujannya tidak besar, jadi kalau ada banjir lahar masih bisa dikendalikan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi Cahyono memastikan, kawasan rawan bencana (KRB) III atau zona merah telah dikosongkan dari aktivitas warga. Salah satunya di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.
“Blok Kamar A yang di zona merah sudah kita kosongkan. Tim reaksi cepat BPBD juga sudah bersiaga untuk mengantisipasi awan panas susulan maupun banjir lahar hujan,” kata Yudhi. (*)












